Nuansa Berbeda saat Prosesi Jamasan Pusaka Pemalang di Bulan Suro

by Editor Muh. Asdar
0 comments

BERITABERSATU.COM,Pemalang – Setiap tahun, Pemerintah Kabupaten Pemalang melakukan tradisi Jamasan Pusaka yang dilakukan di bulan Suro, atau bulan pertama dari kalender Jawa.

Tradisi Jamasan Pusaka adalah upacara rutin diselenggarakan pada bulan Suro untuk membersihkan benda-benda pusaka milik Pemerintah Kabupaten Pemalang.

Namun ada yang berbeda dari tradisi Jamasan pusaka tahun ini, jika sebelumnya tradisi Jamasan dilakukan pagi hari di Garasi Rumah Dinas Bupati Pemalang, tahun ini dilakukan pada malam hari di Bangunan Cagar Budaya Ndalem Notonagoro.

Prosesi Jamasan dimulai dengan kirab budaya berjalan kaki menggunakan obor di Pendopo Pemalang menuju Bangunan Cagar Budaya Ndalem Notonagoro kediaman Bupati Pemalang masa lampau.

Berbagai pusaka yang dibersihkan dalam tradisi Jamasan Pusaka ini mulai dari tombak, keris hingga klewang. Tak hanya senjata pusaka, dua kereta kencana kebanggaan Kabupaten Pemalang yakni Kyai Seto Mraman dan Kyai Turonggo Jati juga turut di Jamas.

Tujuan Jamasan Pusaka tidak hanya untuk merawat benda-benda warisan sejarah dan budaya, namun secara spiritual menggambarkan sikap masyarakat Jawa saat datangnya bulan Suro.

Penjamasan benda-benda pusaka milik Pemerintah Kabupaten Pemalang ini dilakukan langsung Bupati Pemalang, Anom Widiyantoro didampingi KRAT Purwanto Condro Nagoro.

Bupati Anom mengatakan, tradisi jamasan tidak hanya bertujuan menjaga kondisi fisik pusaka dan kereta kencana agar tetap terawat, tetapi juga menjadi pengingat terhadap warisan yang ditinggalkan leluhur.

“Kita saat ini hidup di zaman modern. Modernisasi dan inovasi sangatlah penting. Namun, apabila tidak disertai dengan perilaku dan langkah yang baik, hal itu dapat menyebabkan hilangnya harga diri serta martabat manusia,” ujarnya, Rabu (24/6/2026) malam.

Menurut Anom Widiyantoro, kemajuan zaman tidak seharusnya membuat masyarakat melupakan akar budayanya.

Justru di tengah perubahan yang begitu cepat, nilai-nilai luhur yang diwariskan leluhur menjadi penuntun agar kehidupan tetap berpijak pada etika dan penghormatan terhadap sesama.

Maka itu, ia mengajak masyarakat Kabupaten Pemalang untuk terus menjaga dan melestarikan budaya yang telah memberikan tuntunan hidup, mengajarkan kerendahan hati, serta menjadi hasil pengabdian panjang para pendahulu.(*)

You may also like