BERITABERSATU.COM, JEMBER – Pertanyaan mengenai siapa pemasok minuman sari kedelai untuk Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) Gumukmas 02, Dusun Jatiagung, Desa Gumukmas Kecamatan Gumukmas, Kabupaten Jember, mulai mencuat setelah puluhan siswa MI Al-Islah mengalami gejala yang diduga keracunan usai menyantap menu Makan Bergizi Gratis (MBG), pada Selasa 22 September 2026 kemarin.
Minuman sari kedelai menjadi salah satu komponen menu MBG yang kemudian mendapat perhatian dalam penelusuran insiden tersebut. Sejumlah siswa mengalami keluhan kesehatan setelah menyantap menu MBG sehingga harus mendapatkan penanganan di Puskesmas setempat.Sabtu, (26/09/26).
Meski demikian, hingga kini belum ada kesimpulan resmi bahwa sari kedelai merupakan penyebab kejadian tersebut.Penyebab pasti masih menunggu hasil pemeriksaan dan penelusuran dari pihak berwenang.
Di tengah proses tersebut, asal-usul dan pihak yang memasok minuman sari kedelai ke SPPG Gumukmas 02 menjadi salah satu hal yang menarik untuk ditelusuri.
Berdasarkan penelusuran media ini dari sejumlah sumber, minuman sari kedelai yang digunakan dalam menu MBG tersebut, diduga berasal dari sebuah industri rumahan yang dikenal dengan nama UD ZAM.
UD ZAM diketahui berlokasi di Desa Bagorejo, Kecamatan Gumukmas. Namun, informasi mengenai UD ZAM sebagai pemasok tersebut masih memerlukan konfirmasi langsung dari pihak produsen maupun pihak pengelola Dapur MBG.
Penelusuran ini penting dilakukan untuk mengetahui secara jelas rantai pasok minuman sari kedelai yang digunakan dalam program MBG, mulai dari pihak yang memproduksi, memasok, hingga pihak yang menerima dan menggunakan produk tersebut sebagai bagian dari menu.
Apalagi, pasca munculnya insiden yang dialami sejumlah siswa, Badan Gizi Nasional (BGN) kemudian melarang penggunaan sari kedelai dalam menu MBG.Larangan tersebut didasarkan pada ketentuan bahwa sari kedelai bukan merupakan produk susu.
Informasi lain yang diperoleh media ini menyebutkan bahwa, pada Kamis, 24 September 2026 pemilik UD ZAM telah dipanggil oleh pihak Polres Jember untuk dimintai keterangan terkait insiden yang dialami siswa MI Al-Islah.
Pemanggilan tersebut, berdasarkan informasi yang dihimpun, berkaitan dengan penelusuran mengenai pemasok minuman sari kedelai yang digunakan dalam menu MBG di SPPG Gumukmas 02.
Untuk memastikan informasi tersebut, media ini mencoba melakukan konfirmasi kepada Kanit Tipidter Satreskrim Polres Jember, Ipda Harry Sasono, melalui pesan WhatsApp.
Konfirmasi diarahkan pada informasi mengenai apakah pihak kepolisian telah memanggil pihak yang disebut sebagai penyuplai atau pemasok minuman sari kedelai ke SPPG Gumukmas 02 untuk dimintai keterangan terkait insiden tersebut.
Namun, hingga berita ini disusun, belum diperoleh penjelasan substantif dari Ipda Harry Sasono. Ia hanya membalas pesan WhatsApp dengan tulisan, “Walaikumsalam mas Tahrir”.
Untuk mendapatkan keterangan langsung dari pihak yang disebut sebagai pemasok, awak media kemudian mendatangi lokasi UD ZAM di Desa Bagorejo. Namun, upaya tersebut belum membuahkan hasil.
Saat didatangi, kondisi pintu rumah dan pintu gerbang lokasi UD ZAM dalam keadaan tertutup serta terkunci. Tidak terlihat adanya aktivitas maupun seseorang yang dapat dimintai keterangan.
Dengan demikian, hingga saat ini belum diperoleh konfirmasi langsung dari pemilik atau pengelola UD ZAM mengenai apakah benar pihaknya memasok minuman sari kedelai untuk SPPG Gumukmas 02.
Munculnya nama UD ZAM dalam penelusuran tersebut membuat pertanyaan mengenai rantai pasok minuman sari kedelai SPPG Gumukmas 02 menjadi penting untuk dijawab.
Publik perlu mendapatkan informasi yang jelas mengenai siapa produsen minuman tersebut, bagaimana proses pengadaannya, siapa yang menerima dan menyalurkannya ke SPPG, serta standar pemeriksaan produk sebelum digunakan dalam menu MBG.
Terlebih, program MBG menyangkut makanan dan minuman yang dikonsumsi oleh anak-anak sehingga aspek keamanan pangan menjadi bagian penting dalam pelaksanaannya.
Namun demikian, nama UD ZAM dalam pemberitaan ini masih sebatas pihak yang disebut dalam penelusuran berdasarkan informasi dari sejumlah sumber. Belum ada konfirmasi langsung dari pihak UD ZAM yang membenarkan ataupun membantah informasi tersebut.
Begitu pula mengenai dugaan keterkaitan sari kedelai dengan keluhan kesehatan para siswa, kepastian mengenai hal tersebut masih menunggu hasil pemeriksaan resmi. (Tahrir)