Beritabersatu.com, Blitar – RSUD Ngudi Waluyo Wlingi, Kabupaten Blitar terus berinovasi dalam meningkatkan kualitas pelayanan kesehatan ibu dan bayi. Salah satu terobosan yang kini dihadirkan adalah SI BATARI (Sistem Informasi Bidan Terintegrasi), sebuah sistem layanan yang menghubungkan rumah sakit dengan bidan wilayah, fasilitas kesehatan tingkat pertama (FKTP), Dinas Kesehatan, Dinas Kependudukan dan Pencatatan Sipil (Dispendukcapil), serta berbagai pemangku kepentingan lainnya dalam satu alur pelayanan yang terintegrasi.
Inovasi ini lahir sebagai solusi atas berbagai kendala yang selama ini dihadapi dalam pelayanan kesehatan maternal, mulai dari lambatnya komunikasi rujukan pasien, keterlambatan penyampaian umpan balik kepada bidan wilayah, hingga proses administrasi kependudukan bayi baru lahir yang memerlukan waktu cukup lama.
Direktur RSUD Ngudi Waluyo, Endah Woro Utami mengatakan, SI BATARI bukan sekadar memanfaatkan teknologi informasi, tetapi juga menjadi upaya memperkuat koordinasi antarfasilitas kesehatan agar pelayanan kepada ibu hamil, ibu bersalin, dan bayi dapat dilakukan lebih cepat, tepat, dan berkesinambungan.
“Melalui SI BATARI kami ingin memastikan tidak ada lagi keterlambatan informasi dalam penanganan pasien. Ketika bidan wilayah menemukan ibu hamil dengan risiko tinggi, rumah sakit dapat menerima informasi lebih awal sehingga tim medis sudah siap memberikan penanganan terbaik sebelum pasien tiba. Setelah pasien selesai dirawat, hasil pemeriksaan dan rekomendasi tindak lanjut juga langsung kami sampaikan kembali kepada bidan wilayah dalam waktu maksimal 1×24 jam,” ujarnya, Kamis (16/7/2026).
Ia menjelaskan, sebelum inovasi tersebut diterapkan, proses komunikasi rujukan masih dilakukan secara manual. Akibatnya, umpan balik dari rumah sakit kepada bidan wilayah baru diterima dalam waktu dua hingga tiga hari. Kondisi tersebut dinilai berpotensi menghambat pemantauan lanjutan terhadap pasien, terutama bagi ibu dengan kehamilan berisiko tinggi.
Kini, melalui sistem komunikasi digital SI BATARI, seluruh informasi mengenai kondisi pasien, hasil pemeriksaan, terapi, hingga rencana tindak lanjut dapat diterima bidan wilayah dalam waktu kurang dari 24 jam. Dengan demikian, pemantauan kesehatan ibu setelah kembali ke daerah asal dapat berlangsung lebih optimal.
Alur pelayanan dimulai sejak bidan wilayah melakukan deteksi dini terhadap ibu hamil yang memiliki faktor risiko. Data pasien kemudian dikirim melalui sistem SI BATARI kepada tim Klinik Obstetri dan Ginekologi (Obgyn) serta ruang Pelayanan Obstetri Neonatal Emergensi Komprehensif (PONEK) RSUD Ngudi Waluyo. Informasi tersebut menjadi bekal bagi tenaga medis untuk mempersiapkan pelayanan sebelum pasien datang ke rumah sakit.
Tak hanya berfokus pada aspek medis, SI BATARI juga memberikan kemudahan dalam pelayanan administrasi kependudukan bagi bayi yang baru lahir. Melalui kerja sama dengan Dispendukcapil Kabupaten Blitar, orang tua tidak lagi harus mengurus secara terpisah Akta Kelahiran, Kartu Keluarga (KK), maupun Kartu Identitas Anak (KIA). Seluruh proses dapat difasilitasi melalui rumah sakit sehingga lebih praktis dan efisien.
Endah menambahkan, pelayanan kesehatan tidak hanya berhenti ketika pasien pulang dari rumah sakit. Karena itu, pihaknya juga menghadirkan layanan pendampingan bagi ibu nifas melalui KINASIH (Komunitas Ibu Nifas Sehat).
“Kami ingin menghadirkan pelayanan yang benar-benar menyeluruh. Setelah persalinan, ibu tetap membutuhkan pendampingan, edukasi, dan pemantauan. Melalui KINASIH, para ibu dapat berkonsultasi, memperoleh informasi kesehatan, sekaligus saling berbagi pengalaman selama masa nifas. Bahkan keluarga juga mendapatkan dokumentasi foto bayi secara gratis sebagai bentuk pelayanan yang lebih humanis,” katanya.
Pengembangan SI BATARI juga diperkuat dengan inovasi SI BIMA SAKTI, yang berfokus pada pemantauan bayi dengan risiko tinggi. Kedua inovasi tersebut saling melengkapi sehingga pelayanan kesehatan dapat berlangsung secara berkesinambungan mulai dari masa kehamilan, persalinan, nifas, hingga pemantauan tumbuh kembang bayi.
Sejak diterapkan, berbagai indikator pelayanan menunjukkan hasil yang positif. Waktu penyampaian umpan balik rujukan yang sebelumnya membutuhkan dua hingga tiga hari kini berhasil dipangkas menjadi kurang dari 24 jam. Sementara itu, proses penerbitan dokumen kependudukan bayi yang sebelumnya dapat berlangsung lebih dari satu bulan kini ditargetkan selesai dalam waktu kurang dari tujuh hari.
Rumah sakit juga menargetkan tingkat kepuasan pasien di Klinik Obgyn dan ruang PONEK mencapai lebih dari 80 persen. Selain meningkatkan kualitas pelayanan, inovasi ini diharapkan mampu menekan risiko kematian ibu akibat komplikasi seperti perdarahan, preeklamsia, maupun sepsis melalui sistem penanganan yang lebih cepat dan terintegrasi.
Menurutnya, kehadiran SI BATARI merupakan bagian dari komitmen rumah sakit dalam menghadirkan pelayanan publik yang adaptif terhadap perkembangan teknologi sekaligus menjawab kebutuhan masyarakat.
“Kami berharap SI BATARI dapat menjadi model pelayanan kesehatan maternal yang terintegrasi di Kabupaten Blitar. Ke depan kami akan terus memperkuat kolaborasi dengan Dinas Kesehatan, Dispendukcapil, Ikatan Bidan Indonesia, fasilitas kesehatan tingkat pertama, serta seluruh jejaring pelayanan kesehatan agar keselamatan ibu dan bayi semakin terjamin. Pada akhirnya, tujuan utama kami adalah memberikan pelayanan yang cepat, mudah, aman, dan berkualitas bagi seluruh masyarakat,” pungkasnya. (Zan)