BERITABERSATU.COM, SINJAI – Guyuran hujan deras dan jalur pegunungan yang licin tak menjadi penghalang bagi tim kesehatan demi menyentuh masyarakat di pelosok. Dusun Karampuang, Desa Botolempangan, salah satu wilayah paling terpencil di bawah naungan Puskesmas Manipi, kembali menjadi sasaran pelayanan kesehatan jemput bola, meskipun medan yang harus ditempuh tergolong “ekstrem”.
Perjalanan menuju lokasi menuntut fisik yang prima. Tim harus menaklukkan jalanan yang mendaki dan menurun tajam dengan kondisi tanah yang berubah menjadi lumpur licin akibat cuaca buruk. Namun, semangat pengabdian mengalahkan tantangan alam tersebut.
Kegiatan ini dipimpin langsung oleh Kepala Bidang dari Dinas Kesehatan Kabupaten, bersinergi dengan tenaga medis dari Puskesmas Manipi. Kehadiran mereka di Dusun Karampuang bukan sekadar kunjungan formalitas, melainkan misi kemanusiaan untuk memastikan akses kesehatan yang merata.
“Walaupun kondisi jalan cukup berat karena hujan dan medan yang sulit, pelayanan kepada masyarakat harus tetap berjalan. Ini adalah bentuk komitmen kami untuk hadir langsung di tengah masyarakat,” ujar salah satu anggota tim medis di sela-sela kegiatannya.
Setibanya di lokasi, tim langsung bergerak memberikan berbagai layanan kesehatan dasar, di antaranya, Skrining penyakit tidak menular dan cek kesehatan rutin, Pemberian obat-obatan bagi warga yang memiliki keluhan kesehatan, Sosialisasi pola hidup bersih dan sehat (PHBS), dan Pemantauan khusus bagi lansia dan balita di wilayah tersebut.
Kabid Dinas Kesehatan menegaskan bahwa wilayah terpencil kini menjadi prioritas utama pemerintah.
“Kami ingin memastikan seluruh masyarakat, tanpa terkecuali, mendapatkan pelayanan yang layak. Semangat pengabdian dan kerja sama tim adalah kunci utama untuk menjangkau daerah dengan akses sulit seperti ini,” tegasnya.
Kedatangan tim medis disambut dengan antusiasme luar biasa oleh warga Dusun Karampuang. Bagi warga, kehadiran petugas kesehatan di depan pintu rumah mereka adalah harapan besar untuk meningkatkan kualitas hidup di tengah keterbatasan akses transportasi.
Warga berharap kegiatan “jemput bola” seperti ini terus dilakukan secara berkelanjutan. Selain mengobati yang sakit, kegiatan ini diharapkan mampu meningkatkan kesadaran kolektif masyarakat akan pentingnya menjaga kesehatan secara mandiri sejak dini. (**)