BERITABERSATU.COM, SINJAI – Matahari belum terlalu tinggi, namun peluh sudah membanjiri seragam putih yang mereka kenakan. Di Desa Terasa, tepatnya menuju Dusun Cenre, aspal adalah kemewahan yang tak ditemukan. Yang ada hanyalah jalur setapak sempit, tanah merah yang licin, dan tanjakan yang seolah tak memberi ampun pada paru-paru.
Ini bukan perjalanan wisata alam. Ini adalah misi kemanusiaan yang dipimpin langsung oleh Sekretaris Daerah Sinjai sekaligus Plt. Kepala Dinas Kesehatan, Andi Jefrianto Asapa. Bersama rombongan kecil dari Puskesmas Tengnga Lembang, mereka sedang melakukan sesuatu yang di luar protokoler kantor, Berjalan kaki selama 90 menit menembus rimba demi menjumpai warga.
Satu jam tiga puluh menit bukan waktu yang singkat ketika setiap langkah harus beradu dengan gravitasi. Tas berisi stetoskop, tensimeter, dan obat-obatan terasa berkali lipat lebih berat di bawah terik matahari Sinjai Barat.
Kabid Pelayanan Kesehatan Bahraeni Bakri dan Kasubag Program Nurlina tampak sesekali menyeka keringat yang bercucuran. Namun, tak ada keluhan. Di depan mereka, Andi Jefrianto terus melangkah, membuktikan bahwa komitmen pemerintah tidak boleh berhenti di atas meja kayu jati ruang rapat.
“Kami tidak sedang membagikan angka di atas kertas. Kami sedang membawa harapan. Jika warga Dusun Cenre sulit menjangkau kami karena medan ini, maka kami yang harus mengalahkan medan itu untuk menjangkau mereka,” ucap Andi Jefrianto, suaranya parau namun penuh penekanan di tengah pendakian.
Ketika kaki mulai melemah, garis finis itu akhirnya terlihat. Dusun Cenre menyambut mereka dengan keheningan khas pelosok yang mendadak pecah oleh antusiasme warga. Tercatat 106 jiwa dari lansia yang berjalan bungkuk hingga ibu yang menggendong balita berkumpul di satu titik.
Bagi warga Cenre, kehadiran tim medis ini layaknya oase. Akses mereka ke dunia luar selama ini terbelenggu oleh geografis yang ekstrem. Sakit bagi mereka seringkali berarti pasrah, atau bertaruh nyawa menempuh perjalanan jauh ke puskesmas.
Layanan Cek Kesehatan Gratis (CKG) segera dibuka. Tak ada sekat antara pejabat eselon dan warga dusun. Di bawah atap sederhana, tensi diukur, keluhan didengarkan, dan obat-obatan diberikan. Ada kehangatan yang melampaui sekadar transaksi medis, ada pengakuan bahwa mereka, masyarakat pelosok, tetaplah bagian dari Sinjai yang dicintai.
Di balik drama perjalanan ini, ada sosok-sosok nakes yang setiap hari berjibaku dengan medan serupa. Andi Jefrianto tak kuasa menyembunyikan rasa bangganya pada para petugas Puskesmas Tengnga Lembang.
“Melihat dedikasi para nakes kita, berjalan kaki berjam-jam setiap hari demi tugas… itu adalah bentuk pengabdian yang paling murni. Saya hadir di sini untuk berdiri bersama mereka,” tambahnya.
Saat matahari mulai tergelincir ke barat, tim harus kembali menempuh jalur yang sama untuk pulang. Namun, perjalanan pulang kali ini terasa berbeda. Beban di pundak terasa lebih ringan meski kaki tetap pegal.
Kunjungan ke Dusun Cenre ini menjadi pengingat keras bagi semua pihak, bahwa pembangunan kesehatan bukan hanya soal membangun gedung megah di pusat kota, tapi soal sejauh mana kaki kita sanggup melangkah untuk mereka yang tersembunyi di balik bukit.
Pemerintah Kabupaten Sinjai telah menitipkan jejak kakinya di tanah Cenre. Sebuah janji bahwa di bawah langit Desa Terasa, tak boleh ada warga yang sakit tanpa sentuhan tangan negara. (Ads/AP)