Bendungan Pacar Junjung Ambrol, UPT BBWS Kediri Lakukan Penanganan Darurat

by Syamsuddin
0 comments

BERITABERSATU.COM, TULUNGAGUNG — Pasca jebolnya Bendungan pacar yang berlokasi di Desa junjung Kecamatan Sumbergempol Tulungagung, pada hari selasa (25/8) kemarin, Unit pelaksana teknis (UPT) Balai Besar Wilayah Sungai (BBWS) Kediri melakukan langkah penanganan darurat, hal tersebut disampaikan oleh Andri selaku pengawas UPT BBWS melalui sambungan telepon rabu (26/8/26).

Ia menerangkan bahwa Kerusakan yang terjadi di Bendungan Junjung menjadi perhatian yang serius,di karenakan berpotensi mengganggu pasokan air irigasi bagi lahan pertanian sekitarnya.

Berdasarkan hasil pemantauanya, kerusakan terjadi pada bagian lantai atau dasar bendung yang selama ini berada di bawah permukaan air sehingga tidak mudah terpantau secara visual.

Andri menyebut kondisi kerusakan tersebut sebenarnya telah dipantau sejak beberapa waktu lalu, selama ini penanganan masih dilakukan melalui pemeliharaan dan perbaikan rutin, sementara perbaikan yang lebih besar telah direncanakan pada musim tanam ketiga di perkirakan bulan Agustus atau September tahun 2026.

Namun, pada kenyataanya pelaksanaan perbaikan menghadapi kendala tersendiri. Bendungan tidak dapat langsung dikeringkan karena masih terdapat petani yang membutuhkan pasokan air untuk kegiatan pertanian.

“Memang kita pantau terus, tetapi selama ini masih kita lakukan perbaikan-perbaikan yang sifatnya rutin. Untuk perbaikan berat, rencananya tahun ini kita akan melakukan perbaikan pada lantai bendungan,” terang Andri.

Menurutnya, memasuki Agustus hingga September, pihak terkait sebenarnya telah melakukan koordinasi untuk mencari waktu yang tepat melakukan pengeringan. Akan tetapi, kondisi di lapangan menunjukkan kebutuhan air petani masih cukup tinggi.

Sebagian petani masih menggunakan pola tanam padi, sementara sebagian lainnya telah memasuki pola tanam berikutnya, kondisi tersebut membuat proses pengeringan bendung harus dilakukan dengan mempertimbangkan kepentingan petani.

“Kalau kita paksakan dikeringkan, nanti petaninya juga terganggu. Karena itu kita terus kawal dan pantau kondisi di lapangan,” ujarnya.

Dari hasil pemantauan terakhir lanjut Andri, kerusakan pada bagian bawah bendungan sudah cukup serius. Bahkan, kondisi tersebut dinilai telah memasuki tahap kritis sehingga membutuhkan penanganan lebih lanjut.

Untuk menjaga agar kebutuhan air irigasi petanian tetap terpenuhi selama proses penanganan, BBWS menyiapkan langkah darurat berupa pemasangan cofferdam atau bendung sementara di area bendungan yang ambrol.

Bendungan sementara tersebut nantinya dipasang melintang di area bendungan untuk membantu mengatur aliran air dan memasukkannya kembali ke jaringan irigasi. Dengan demikian, petani diharapkan tetap dapat memperoleh pasokan air dan tidak mengalami gangguan dalam kegiatan tanam.

Di sisi lain, untuk penanganan permanen, tim BBWS saat ini mulai melakukan pengukuran di lokasi. Hasil pengukuran tersebut akan menjadi dasar dalam menghitung kebutuhan teknis pekerjaan, termasuk penyusunan gambar dan Rencana Anggaran Biaya (RAB).

“Untuk perbaikan bendungan sendiri, kita masih melakukan pengukuran dan perhitungan. Memang tidak bisa instan, tetapi kita usahakan secepat mungkin untuk usulan dan kebutuhan seperti gambar serta RAB,” jelas Andri.

Ia juga mengatakan terkait kapan pekerjaan permanen akan dimulai dan berapa lama prosesnya, pihak BBWS belum dapat memastikan hal tersebut, saat ini tahapan masih berada pada proses pengukuran dan persiapan penanganan darurat.

Meski demikian, pihak BBWS memastikan penanganan akan dilakukan secepat mungkin. Bahkan, pekerjaan persiapan terus dikebut agar solusi sementara dapat segera diterapkan di lapangan.

Langkah tersebut diharapkan mampu menjaga dua kepentingan sekaligus, yakni mempercepat penanganan kerusakan Bendungan Junjung sekaligus memastikan kebutuhan air irigasi bagi petani tetap terpenuhi.

Penulis: Agus

You may also like