SEMARANG, BERITABERSATU – Politisi Partai Gerindra Jawa Tengah, Dwi Yasmanto (Yayan), menilai pernyataan Ketua Umum Projo Budi Arie Setiadi soal kemungkinan percepatan pergantian kepemimpinan nasional sebelum Pemilu 2029 bernuansa provokasi dan berpotensi memecah belah bangsa.
Yayan yang juga sebagai Sekretaris Fraksi Gerindra DPRD Provinsi Jawa Tengah itu menilai, pernyataan mengenai percepatan pergantian kepemimpinan nasional dapat memunculkan spekulasi sekaligus mengadu antartokoh bangsa.
Menurutnya, pola semacam itu mengingatkan pada strategi devide et impera yang memanfaatkan perbedaan untuk melemahkan persatuan.
“Ada upaya memecah belah bangsa dengan mengadu antar tokoh bangsa. Polanya dengan menghembuskan isu berita tidak benar atau hoax, dan memproduksi ujaran kebencian terhadap pemimpin bangsa,” tegas Yayan kepada wartawan, Rabu (26/8/2026).
Ia mengingatkan, Indonesia saat ini membutuhkan persatuan dan kesatuan untuk mendukung pembangunan di bawah kepemimpinan Presiden Prabowo Subianto.
Karena itu, seluruh pihak diharapkan untuk tidak mengembuskan isu yang justru dapat mengganggu konsentrasi pemerintah dalam menjalankan agenda pembangunan.
“Pemerintahan Pak Prabowo sedang berupaya agar rakyatnya bisa sejahtera melalui program makan bergizi gratis, sekolah rakyat, swasembada pangan, dan lain-lain. Jadi saat ini yang dibutuhkan adalah persatuan dan kesatuan,” ungkapnya.
Menurutnya, perbedaan pandangan politik merupakan hal yang wajar dalam demokrasi. Namun, ia meminta masyarakat tidak mudah terprovokasi oleh informasi yang beredar di media sosial, terutama konten yang hanya menampilkan potongan pernyataan tanpa konteks utuh.
“Kita harus bijak dalam memahami pemberitaan media sosial, jangan terpancing oleh video yang terpotong-potong, harus membaca harus utuh,” tegas Yayan.
Ia juga mempertanyakan bagaimana Indonesia dapat membangun negara yang kokoh apabila di tengah proses perbaikan justru muncul upaya-upaya yang berpotensi merusak persatuan.
“Akan sampai kapan negara ini bisa berdiri kokoh, jika saat sedang diperbaiki sistimnya malah dirongrong oleh oknum-oknum tidak bertanggungjawab,” katanya.
Pak Prabowo, lanjut Yayan, sudah menyontohkan saat 2014 – 2024 beliau pernah kalah dalam kontestasi politik, beliau menghormati kepemimpinan Pak Jokowi tidak mengganggu bahkan dengan besar hati turut membangun negeri ini”
Lebih lanjut, pihaknya mengajak seluruh elemen masyarakat menjaga kondusivitas dan tidak menjadikan dinamika politik sebagai alasan untuk saling berhadapan. Menurutnya, kepentingan menjaga persatuan bangsa harus ditempatkan di atas kepentingan politik jangka pendek.
Sebelumnya, Ketua Umum Projo, Budi Arie Setiadi, menyinggung kemungkinan situasi politik nasional bergerak lebih cepat dari skenario Pemilu lima tahunan berikutnya.
Pernyataan tersebut disampaikan Budi Arie saat berada di samping Presiden ke-7 RI, Joko Widodo yang kemudian beredar di media sosial.
“Tetapi saya ingin sampaikan, tadi saya sudah bisik ke Pak Jokowi. Pak, kok insting saya ini lebih cepat dari 2029. Apakah kita mau? Belum tentu kita mau, kita masih ngomong Pemilu 2029-Pemilu 2029. Kalau terjadi percepatan gimana? Kita siap nggak?” kata Budi Arie yang langsung disambut seruan siap dari peserta.
Pernyataan tersebut kemudian memunculkan perhatian dan spekulasi di ruang publik. Masyarakat diimbau tetap tenang, kritis dalam menerima informasi, serta tetap menjaga persatuan di tengah dinamika politik nasional.
(Arief Ferdianto)