Beritabersatu.com, Blitar – Kebun benih milik CV Lang Buana di Desa Gogodeso, Kecamatan Kanigoro, Kabupaten Blitar, menjadi lokasi audit dan monitoring benih kelapa dalam yang dilakukan Kementerian Pertanian RI melalui Inspektorat Jenderal, Rabu (3/6/2026).
Kegiatan tersebut merupakan bagian dari Audit Ketaatan Produksi Benih Kelapa pada Satuan Kerja Direktorat Jenderal Perkebunan Tahun Anggaran 2025 dan 2026 di Jawa Timur yang berlangsung selama 10 hari, mulai 29 Mei hingga 7 Juni 2026.
Dalam monitoring tersebut, tim dari Kementerian Pertanian meninjau secara langsung kondisi benih kelapa dalam nonpolibag yang berada di kebun benih CV Lang Buana. Pemeriksaan dilakukan untuk memastikan benih yang akan didistribusikan kepada petani memenuhi standar mutu yang telah ditetapkan.
Sejumlah aspek menjadi fokus pemeriksaan, di antaranya umur benih, berat buah, daya kecambah, kondisi kulit buah, hingga kesehatan benih. Langkah ini dilakukan sebagai bagian dari upaya menjaga kualitas benih unggul yang akan digunakan untuk mendukung pengembangan perkebunan kelapa di berbagai daerah.
PIC Komoditas Kelapa CV Lang Buana, Iqbal Nurani, mengatakan benih yang saat ini dipersiapkan akan didistribusikan ke Kabupaten Blitar dan Kabupaten Trenggalek.
“Untuk wilayah Blitar ada 33 ribu bibit, sedangkan untuk wilayah Trenggalek ada 11 ribu bibit,” ujarnya.
Iqbal menjelaskan seluruh benih yang dipersiapkan berasal dari Banyuwangi dan telah memiliki sertifikasi sebagai sumber benih unggul. Sebelum disalurkan, benih menjalani serangkaian pemeriksaan teknis guna memastikan kualitasnya tetap terjaga.
“Untuk mendapatkan benih yang baik, kami mendatangkan kelapa dari Banyuwangi yang sudah bersertifikat. Pemeriksaan dilakukan terhadap umur benih, air buah, berat buah, daya kecambah, lama penyimpanan, kulit buah, dan kesehatan benih,” jelasnya.
Menurutnya, proses sertifikasi dan pengawasan mutu memiliki peran penting dalam menjamin benih yang diterima petani benar-benar berkualitas. Dengan benih unggul, produktivitas tanaman kelapa diharapkan dapat meningkat sehingga memberikan manfaat ekonomi yang lebih besar bagi petani.
Audit dan monitoring tersebut juga menjadi bagian dari dukungan terhadap program hilirisasi kelapa nasional yang mendorong peningkatan nilai tambah komoditas kelapa melalui berbagai produk turunan, mulai dari virgin coconut oil (VCO), nata de coco, cocopeat, cocofiber hingga arang aktif.(zan)