Gunakan Benih Bersertifikat, Pemkab Blitar Kebut Realisasi Program Bongkar Ratoon Tahun 2026

by Editor Muh. Asdar
0 comments

Beritabersatu.com, Blitar – Pemerintah Kabupaten Blitar memulai penanaman tebu perdana Program Bongkar Ratoon Tahun 2026 di lahan milik Koperasi Karyawan Perkebunan Gambar, Desa Sumberasri, Kecamatan Nglegok, Kabupaten Blitar, Senin (25/5/2026). Kegiatan ini menjadi bagian dari upaya mendukung program nasional peningkatan produktivitas gula dan swasembada pangan nasional melalui revitalisasi tanaman tebu.

Agenda tersebut dihadiri langsung oleh Bupati Blitar Rijanto bersama sejumlah kepala organisasi perangkat daerah (OPD), di antaranya Kepala Dinas Ketahanan Pangan dan Pertanian (DKPP) Kabupaten Blitar Setiyana dan Kepala Dinas PUPR Kabupaten Blitar Agus Zaenal.

Penanaman perdana dilakukan secara simbolis menggunakan benih tebu dari Pengembangan Kebun Benih Dasar (KBD) bersertifikat yang disediakan oleh CV Lang Buana. Penggunaan benih bersertifikat ini diharapkan mampu meningkatkan kualitas tanaman serta produktivitas hasil panen petani tebu di Kabupaten Blitar.

Usai melakukan prosesi penanaman, Bupati Rijanto mengatakan Kabupaten Blitar memiliki potensi besar dalam sektor perkebunan tebu, baik di wilayah Blitar utara maupun selatan. Menurutnya, capaian Kabupaten Blitar pada tahun sebelumnya menjadi modal optimisme untuk memenuhi target pada 2026.

“Untuk tanaman tebu, Blitar memiliki potensi yang luar biasa, baik wilayah Blitar selatan maupun utara. Apalagi tahun 2025, kita menjadi yang tertinggi se-Jawa Timur dalam merealisasikan target,” kata Rijanto.

Ia menjelaskan, pada tahun 2026 Kabupaten Blitar mendapatkan target penanaman tebu seluas 5.600 hektare ditambah 500 hektare untuk pengembangan. Hingga tahap awal pelaksanaan program, sekitar 2.300 hektare lahan telah mulai digarap.

“Dari penanaman perdana ini, kita akan terus bergerak untuk memenuhi target, kalau bisa melebihi,” ujarnya.

Program Bongkar Ratoon sendiri merupakan program pemerintah untuk meningkatkan produktivitas tebu nasional melalui peremajaan tanaman. Dalam sistem ratoon, tanaman tebu yang telah dipanen akan tumbuh kembali dari sisa batang lama. Namun, produktivitas tanaman biasanya menurun setelah beberapa kali panen. Karena itu, dilakukan “bongkar ratoon” atau pembongkaran tanaman lama dan diganti dengan bibit baru yang lebih unggul agar hasil panen meningkat dan kualitas tebu tetap terjaga.

Pemerintah pusat mendorong program tersebut sebagai bagian dari strategi memperkuat ketahanan pangan dan energi nasional, khususnya dalam meningkatkan produksi gula domestik agar mampu menekan ketergantungan impor.

Sementara itu, Direktur CV Lang Buana Bambang Setyawan mengatakan kebutuhan benih tebu di Kabupaten Blitar cukup besar dan terus meningkat seiring perluasan program bongkar ratoon. Perusahaan yang dipimpinnya saat ini memiliki sekitar 250 hektare kebun benih yang mampu memenuhi kebutuhan tanam untuk sekitar 1.500 hingga 2.000 hektare lahan.

“Karena penanamannya tidak dilakukan secara serentak, kami juga sudah menyiapkan tambahan sekitar 140 hektare kebun benih baru. Jadi kami membuat kebun KBD setiap bulan agar kebutuhan petani tetap tercukupi dan kualitas benih tetap terjaga,” terang pria yang akrab disapa Wawan itu.

Menurut Wawan, penggunaan benih bersertifikat menjadi faktor penting dalam meningkatkan hasil produksi petani. Selain memiliki tingkat pertumbuhan yang lebih baik, benih dari kebun KBD juga lebih tahan terhadap serangan penyakit dan mampu menghasilkan rendemen gula yang lebih tinggi.

“Kami ingin petani tidak hanya mengejar luas tanam, tetapi juga kualitas hasil panennya. Kalau bibitnya bagus dan pola tanamnya tepat, produktivitas bisa meningkat signifikan. Ini yang terus kami dorong bersama pemerintah daerah,” katanya.

Pada kesempatan yang sama, Kepala DKPP Kabupaten Blitar, Setiyana, menjelaskan strategi pemerintah daerah untuk memenuhi target total 6.100 hektare lahan tebu pada tahun ini. Menurutnya, penanaman pada Mei hingga Juli diprioritaskan di wilayah Blitar bagian utara karena kondisi lahan dan ketersediaan air dinilai lebih mendukung.

“Untuk memenuhi target total 6.100 hektare, pada bulan Mei, Juni, dan Juli kita prioritaskan pada wilayah Blitar bagian utara. Sementara wilayah selatan kemungkinan baru dimulai pada bulan Oktober,” ujarnya.

Setiyana menambahkan, Pemkab Blitar juga tengah menyiapkan sejumlah lahan potensial di wilayah selatan untuk mendukung perluasan area tanam. Koordinasi dengan kelompok tani, koperasi, hingga pihak swasta terus dilakukan agar realisasi target dapat tercapai secara maksimal.

“Kami optimistis target ini bisa tercapai. Apalagi antusiasme petani cukup tinggi dan didukung ketersediaan benih yang memadai. Ke depan kami juga akan memperkuat pendampingan kepada petani, mulai dari pola tanam, pemupukan, hingga pengendalian hama agar hasilnya benar-benar optimal,” pungkasnya. (Zan)

You may also like