Belanja Online Menggeliat, Pasar Tradisional Kota Blitar Dituntut Beradaptasi

by Editor Muh. Asdar
0 comments

Beritabersatu.com, Blitar- Pasca pandemi COVID-19, perubahan perilaku masyarakat dalam berbelanja menjadi tantangan serius bagi keberlangsungan pasar tradisional. Masyarakat kini semakin terbiasa bertransaksi secara digital (online) yang dinilai lebih praktis dan terkadang lebih murah tanpa harus bertemu langsung dengan penjual.

Dampak tersebut turut dirasakan di sejumlah pasar tradisional di Kota Blitar yang mengalami penurunan jumlah pengunjung. Sepinya pasar dipengaruhi berbagai faktor, mulai dari kualitas barang dagangan, kepastian harga, hingga persoalan kebersihan, keamanan, dan kenyamanan. Selain itu, keterbatasan metode pembayaran digital seperti QRIS, OVO, dan DANA juga menjadi kendala tersendiri di tengah tren transaksi non-tunai.

Meski demikian, tidak semua pasar tradisional mengalami penurunan aktivitas secara menyeluruh. Pada waktu-waktu tertentu, beberapa pasar masih menunjukkan geliat ekonomi yang cukup tinggi.

Di Pasar Templek misalnya, aktivitas perdagangan berlangsung sangat ramai pada dini hari. Mulai pukul 02.00 hingga menjelang subuh sekitar pukul 04.30 WIB, para bakul ethek terlihat memadati pasar untuk berbelanja secara grosir. Bahkan sejak pukul 01.00 dini hari, pedagang sayur mayur dan hortikultura dari wilayah Pujon, Malang, dan sekitarnya sudah mulai berdatangan untuk memasok barang dagangan.

Sementara itu, Pasar Legi menunjukkan keramaian pada pukul 10.00 hingga 12.00 WIB, kemudian kembali ramai pada sore hari antara pukul 15.00 hingga 17.00 WIB, khususnya di area kios sisi selatan dan sepanjang Jalan Mayang yang menjadi pusat transaksi grosiran.

Hal serupa juga terjadi di Pasar Pon, yang ramai dikunjungi para pedagang keliling atau bakul ethek pada pukul 03.30 hingga 05.30 WIB untuk berbelanja kebutuhan dagangan.

Untuk menjaga dan meningkatkan kembali aktivitas ekonomi di pasar tradisional, dibutuhkan peran kolaboratif dari berbagai pihak. Pemerintah daerah melalui dinas terkait saat ini tengah menyiapkan program revitalisasi pasar, termasuk Pasar Legi, Pasar Kuliner, dan Pasar Pahing.

Kepala Dinas Perindustrian dan Perdagangan (Disperindag) Kota Blitar, Parminto, mengatakan bahwa revitalisasi tidak hanya menyasar pembangunan fisik, tetapi juga pembenahan sistem dan adaptasi terhadap perkembangan zaman.

“Kami tidak hanya fokus pada perbaikan bangunan pasar, tetapi juga bagaimana pasar tradisional bisa lebih bersih, aman, nyaman, dan mampu mengikuti kebutuhan masyarakat saat ini, termasuk digitalisasi transaksi,” ujar Parminto.

Ia menambahkan, ke depan pasar tradisional juga akan dikembangkan sebagai ruang yang lebih multifungsi, tidak hanya sebagai tempat jual beli, tetapi juga sebagai ruang kreatif bagi masyarakat.

“Pasar ke depan harus bisa menjadi ruang ekonomi sekaligus ruang sosial dan budaya. Kami mendorong adanya aktivitas kreatif anak muda, seni budaya, hingga integrasi dengan penjualan online,” tambahnya.

Di sisi lain, peran DPRD juga dinilai krusial, baik dalam fungsi penganggaran maupun pengawasan, serta memberikan masukan strategis dalam pengembangan pasar tradisional.

Namun demikian, keberhasilan upaya ini juga sangat bergantung pada kesiapan para pedagang untuk beradaptasi dengan perkembangan zaman. Pedagang diharapkan mulai memanfaatkan sistem pembayaran digital serta meningkatkan kualitas dan tampilan produk agar lebih menarik dan kompetitif.

Dengan sinergi antara pemerintah, legislatif, dan para pelaku pasar, diharapkan pasar tradisional di Kota Blitar dapat kembali menjadi pusat ekonomi yang hidup dan diminati masyarakat. (Zan)

You may also like