BERITABERSATU.COM, Pemalang – Wakil Ketua Badan Legislasi Komisi II DPR RI dari Fraksi Partai Golkar, Ahmad Doli Kurnia Tandjung, turut menyoroti kasus tewasnya bocah kelas 2 SDN 1 Kebondalem, Kabupaten Pemalang, Jawa Tengah yang diduga mengalami bullying oleh kakak kelas.
Ahmad Doli menyampaikan keprihatinannya melalui unggahan di Instagram pribadinya pada Minggu (4/10/2026). Ia menegaskan, persoalan kekerasan terhadap anak harus menjadi perhatian serius seluruh elemen bangsa dan tidak boleh lagi dianggap sebagai persoalan sepele.
Ia menilai kekerasan terhadap anak tidak hanya terjadi dalam relasi orang tua dengan anak atau guru dengan murid, tetapi juga dapat terjadi antaranak.
“Kita, seluruh elemen bangsa ini harus mulai sadar bahwa masalah ini harus menjadi masalah yang serius. Awalnya kita anggap kekerasan anak ini sepele. Ternyata kekerasan itu bukan terjadi antara orang tua terhadap anak, bukan guru terhadap muridnya, tapi juga anak-anak terhadap masing-masing.” tegasnya.
Ahmad Doli mengaku prihatin jika anak-anak sejak usia sekolah dasar sudah terlibat dalam kekerasan yang dapat berujung fatal.
“Coba bayangkan apa jadinya Indonesia ini kalau anak-anak yang sejak usia SD sudah bisa membunuh orang.” ujarnya.
Karena itu, dia mengajak seluruh pihak untuk bergandengan tangan mencegah kekerasan terhadap anak, terutama sejak muncul tanda-tanda awal.
Ahmad Doli secara khusus meminta para orang tua lebih aktif mengawasi sekaligus membimbing anak agar tumbuh dengan akhlak dan perilaku yang baik.
“Kepada seluruh orang tua anak-anak kita di Indonesia, mari kita jaga anak-anak kita, mari kita bimbing menjadi anak-anak yang berakhlak.” ujarnya.
Tak hanya orang tua, sekolah juga diminta tidak menutup mata terhadap dinamika yang terjadi di lingkungan pendidikan.
Menurutnya, kepala sekolah dan para guru harus benar-benar peka terhadap setiap perkembangan yang terjadi di lingkungan sekolah maupun hubungan antara lingkungan keluarga dan sekolah.
“Guru-guru di sekolah, terutama kepala sekolah, harus betul-betul memasang telinga, mata dan hati untuk bisa melihat setiap perkembangan yang ada di sekolah. Jangan sampai ada celah terjadinya kekerasan seperti itu.” tegasnya.
Sorotan berikutnya diarahkan kepada aparat penegak hukum. Ahmad Doli menilai penanganan terhadap kasus kekerasan anak selama ini masih terkesan lambat.
“Selama pengalaman saya satu tahun ini menangani masalah kekerasan terhadap anak, memang terkesan kita masih sangat lambat menangani kasus-kasus yang seperti ini.” ungkapnya.
Ahmad Doli juga menyampaikan rencana untuk turun langsung melihat kondisi korban dan keluarga korban dalam waktu dekat.
“Insyaallah dalam waktu dekat saya mau ke Pemalang, melihat langsung situasi yang dirasakan oleh orang tua dan kemudian anak yang menjadi korban. Mudah-mudahan kita bisa membantu penanganan masalah ini bisa segera selesai.” katanya.
Dia pun mengingatkan masyarakat agar tidak menunggu sampai kekerasan memakan korban jiwa. Setiap indikasi kekerasan, menurutnya, harus segera dilaporkan dan dikoordinasikan agar dapat dicegah sebelum jatuh korban berikutnya.
“Kita tidak perlu menunggu sampai ada korban jiwa meninggal. Ketika kita melihat ada bentuk kekerasan atau bentuk kekerasan apapun, kita harus koordinasikan dan informasikan supaya kita bisa mencegah ada korban-korban lagi ke depan.” jelasnya.
Pernyataan tersebut menjadi pengingat bahwa kasus bullying terhadap anak bukan sekadar persoalan kenakalan anak. Ketika kekerasan dibiarkan, dampaknya dapat berujung pada tragedi dan meninggalkan luka mendalam bagi korban maupun keluarganya.
(Daeng)