Bocah SD di Pemalang Meninggal, Diduga Korban Bullying Kakak Kelas

by Usman
0 comments

BERITABERSATU.COM, Pemalang – Seorang siswa kelas 2 SDN 01 Kebondalem, Kabupaten Pemalang berinisial MHAQ (7) meninggal dunia setelah sempat menjalani perawatan selama sembilan hari di RSUD dr. M. Ashari Pemalang.

Di tengah suasana duka, keluarga mengungkap dugaan bahwa MHAQ mengalami kekerasan atau perundungan yang diduga dilakukan sejumlah kakak kelasnya di sekolah.

MHAQ mengembuskan napas terakhir pada Rabu sore, 30 September 2026. Sebelumnya, korban menjalani perawatan di RSUD dr. M. Ashari sejak Kamis, 17 September 2026.

Pagi ini, Kamis (1/10/2026), rumah duka dipenuhi pelayat. Tangis dan kesedihan menyelimuti keluarga yang harus kehilangan anak mereka di usia yang masih sangat belia.

Ibu korban, Diah Indriyanti (36), mengatakan sebelum dibawa ke rumah sakit, putranya mengeluhkan sakit pada bagian perut. Saat awal menjalani perawatan, MHAQ disebut belum mau menceritakan apa yang sebenarnya dialaminya.

Namun, setelah beberapa hari dirawat dan menjalani pemeriksaan medis, korban akhirnya mengungkap kepada keluarga mengenai dugaan kekerasan yang dialaminya di sekolah.

“Dia menjawab itu setelah diperiksa sama dokter. Katanya dipukul di perut, ada yang nendang pakai sepatu,” ungkap Diah Indriyanti kepada wartawan.

Menurut Diah, selama menjalani perawatan, keluhan utama MHAQ adalah rasa sakit pada bagian perut. Kondisinya juga disebut disertai muntah-muntah, BAB berdarah, kehilangan nafsu makan, hingga kesulitan buang air besar.

“Selama sembilan hari yang sering dikeluhkan itu perut. Sama seluruh badan, kalau diangkat itu nangis,” tutur Diah.

Setelah sembilan hari menjalani perawatan, MHAQ sempat diperbolehkan pulang ke rumah. Namun, beberapa hari kemudian kondisi bocah tersebut kembali memburuk.

Keluhan sakit pada bagian perut kembali dirasakan korban. Keluarga pun berupaya membawa MHAQ kembali mendapatkan penanganan medis. Namun, takdir berkata lain. Nyawa bocah tersebut tidak tertolong.

Duka keluarga kemudian bercampur dengan kekecewaan. Diah bersama suaminya, Nurwandi (43), mengaku mempertanyakan penanganan pihak sekolah terkait dugaan perundungan yang dialami anak mereka.

Keluarga bahkan sempat mendatangi pihak sekolah untuk meminta penjelasan mengenai kejadian yang diduga dialami MHAQ.

Menurut keluarga, hingga kini belum ada pertemuan yang mempertemukan keluarga korban dengan orang tua anak yang disebut sebagai terduga pelaku untuk membahas persoalan tersebut.

Keluarga menilai persoalan tersebut perlu diungkap secara terang agar tidak menyisakan tanda tanya, terlebih setelah kondisi MHAQ berujung pada meninggal dunia.

Nurwandi mengatakan, sebelum meninggal, anaknya sempat menunjukkan sejumlah orang yang menurut korban diduga melakukan kekerasan terhadap dirinya.

“Anak saya sebelum meninggal sudah ngomong siapa-siapa yang mukul dia. Dilihatin foto terus dia nunjuk. Ada tiga anak, yang dua kelas 5 dan satu kelas 6,” ujar Nurwandi.

Untuk mengungkap penyebab kematian secara medis, jenazah MHAQ saat ini menjalani autopsi di RSUD dr. M. Ashari Pemalang.

Pemeriksaan tersebut diharapkan dapat memberikan gambaran secara medis mengenai kondisi tubuh korban sebelum meninggal sekaligus membantu memastikan penyebab kematiannya.

Keluarga berharap aparat kepolisian mengusut dugaan kekerasan yang disampaikan korban sebelum meninggal secara menyeluruh.

Mereka juga meminta agar fakta mengenai apa yang sebenarnya terjadi terhadap MHAQ di lingkungan sekolah dapat segera terungkap.

(Daeng)

You may also like