​Siasat Nakes Jember Kejar Target Penurunan Stunting hingga ke Pelosok

by Editor Muh. Asdar
0 comments

BERITABERSATU.COM, JEMBER — Upaya percepatan penurunan angka stunting terus digalakkan oleh jajaran tenaga kesehatan di Kabupaten Jember. Salah satu langkah konkret ditunjukkan oleh Puskesmas Jelbuk melalui pelayanan kesehatan secara door to door, sebuah layanan jemput bola dengan mendatangi langsung rumah-rumah warga yang memiliki balita dengan indikasi gangguan pertumbuhan atau stunting.

Pada pemantauan berkala yang dilakukan tim medis bersama bidan desa baru-baru ini, petugas kesehatan menembus kawasan perbukitan untuk mengunjungi salah satu rumah warga bernama Susiana, yang berdomisili di Dusun Sumbercandik, Desa Panduman, Kecamatan Jelbuk.

Dalam kunjungan tersebut, tim medis melakukan pemeriksaan terhadap anak kedua dari Susiana yang saat ini telah menginjak usia 27 bulan. Berdasar hasil peninjauan dan dialog bersama orang tua, kondisi indikasi stunting pada anak tersebut memiliki karakteristik yang unik.

Pertama, kendala nafsu makan. Anak tersebut diketahui mengalami fase sulit makan kronis. “Dalam sehari, anak saya sering kali hanya mau mengonsumsi makanan sebanyak dua kali dengan porsi yang sangat terbatas,” ungkapnya.

Kedua, bukan faktor finansial. Susiana menjelaskan bahwa hambatan pemenuhan nutrisi ini murni dipicu oleh masalah perilaku makan anak (picky eater atau enggan makan). “Jadi, bukan disebabkan oleh keterbatasan ekonomi keluarga,” katanya.

Meski pertumbuhan tinggi dan berat badannya terindikasi terhambat akibat asupan gizi yang tidak optimal, secara umum anak tersebut memiliki daya tahan tubuh yang cukup baik dan jarang terserang penyakit infeksi.

Sementara itu, Kepala Puskesmas Jelbuk, Machus Rovida, menyatakan bahwa pihaknya terus memperkuat komitmen dalam menekan angka stunting di wilayahnya. Kunjungan ke rumah Susiana menjadi salah satu wujud memfokuskan perhatian penuh pada ratusan balita di Jelbuk yang masuk dalam kategori pemantauan khusus.

Machus Rovida, mengungkapkan bahwa berdasar hasil validasi data mutakhir di lapangan, tercatat ada sebanyak 245 balita di wilayah kerja Puskesmas Jelbuk yang terindikasi mengalami stunting atau gangguan pertumbuhan.

Guna memastikan penanganan berjalan efektif dan tepat sasaran, Machus Rovida menjelaskan bahwa Puskesmas Jelbuk menerapkan beberapa strategi intervensi.

“Petugas kesehatan, bidan desa, dan kader posyandu dikerahkan untuk menyisir kawasan pemukiman warga, termasuk area perbukitan dan pelosok desa,” tegasnya.

Langkah ini diambil untuk memantau langsung kondisi sanitasi, pola asuh, serta kendala spesifik yang dihadapi setiap keluarga.

Dia juga menilai, layanan jemput bola ini sangat dibutuhkan oleh warga. Mengingat, banyak kendala menuju pusat layanan kesehatan.

Selain itu, pelayanan kesehatan ini juga ditunjang dengan pemberian makanan tambahan (PMT) berbasis pangan lokal. “Mengingat, bervariasinya pemicu stunting, mulai faktor ekonomi hingga perilaku sulit makan pada anak,” terangnya.

“Pihak puskesmas tidak hanya memberikan bantuan fisik, tetapi juga memberikan pembekalan kepada para ibu mengenai pentingnya variasi menu makanan bergizi seimbang untuk meningkatkan nafsu makan anak,” paparnya.

Lebih lanjut, Machus Rovida menegaskan bahwa penanganan 245 balita ini tidak dilakukan secara instan, melainkan melalui pemantauan berkala yang terintegrasi dengan kegiatan Posyandu setiap bulan.

Melalui langkah masif ini, Puskesmas Jelbuk berharap dapat memberikan dampak nyata terhadap penurunan prevalensi stunting di Kabupaten Jember, sekaligus memastikan hak setiap anak untuk tumbuh sehat dapat terpenuhi dengan baik. (Adv/Tahrir)

You may also like