BANJARNEGARA, BERITABERSATU – Sejumlah organisasi yang terdiri dari lembaga swadaya masyarakat (LSM), Ormas, aktivis, hingga komunitas di Kabupaten Banjarnegara membentuk Aliansi Wargo Hutomo sebagai wadah bersama untuk mengawal berbagai isu seperti sosial, politik, kebijakan publik, korupsi dan lainnya.
Untuk diketahui, Aliansi tersebut dibentuk pada 26 April 2026, yang dinahkodai oleh Kurnia Dwi Santoso sebagai Ketua Umum. Kehadirannya disebut sebagai upaya menyatukan berbagai elemen sipil dalam satu semangat perjuangan demi mendorong pembangunan daerah yang lebih maju dan sejahtera.
Sekretaris Jenderal Aliansi Wargo Hutomo, Wahono, mengatakan aliansi tersebut dibentuk sebagai ruang kolaborasi lintas organisasi tanpa menghilangkan identitas masing-masing kelompok.
“Aliansi ini hadir sebagai wadah bersama lintas ormas, LSM, aktivis, dan komunitas di Banjarnegara dalam bingkai perjuangan yang sama, yakni mewujudkan Banjarnegara yang maju dan sejahtera,” kata Wahono, dalam keterangan tertulisnya, Minggu (17/5/2026).
Menurut dia, semangat utama yang diusung Aliansi Wargo Hutomo adalah memperkuat persatuan di tengah keberagaman organisasi dan latar belakang kepentingan.
Ia menilai pembangunan daerah tidak dapat berjalan optimal tanpa adanya stabilitas sosial dan sinergi antarelemen masyarakat. Karena itu, aliansi tersebut menempatkan persatuan dan gotong royong sebagai fondasi utama gerakan.
Wahono juga menyinggung sejarah perjuangan bangsa Indonesia yang menurutnya menjadi bukti pentingnya persatuan dalam mencapai tujuan bersama.
“Bangsa ini berjuang ratusan tahun melawan penjajahan. Namun, kemerdekaan baru dapat diraih setelah lahir semangat persatuan dan kesatuan,” ujarnya.
Nama “Wargo Hutomo” dipilih sebagai bentuk penghormatan terhadap sejarah Kabupaten Banjarnegara. Sosok Wargo Hutomo disebut pernah menjadi bupati Banjarnegara sekaligus tokoh yang memiliki kedekatan spiritual dengan Kanjeng Sinuhun Panembahan Senopati.
Selain dikenal memahami tata pemerintahan, Wargo Hutomo juga disebut memiliki kemampuan di bidang arsitektur dan pernah terlibat dalam pembangunan dermaga di Tegal pada masa pemerintahan Panembahan Senopati.
Bagi aliansi tersebut, nama Wargo Hutomo juga mengandung filosofi tentang pentingnya menjadi “warga utama”, yakni masyarakat yang tidak hanya mengejar kepentingan pribadi, tetapi juga memiliki kesadaran sosial, kebangsaan, dan spiritualitas dalam kehidupan bermasyarakat.
Dalam perjalanannya, Aliansi Wargo Hutomo mengusung slogan “Kita Memang Beragam dan Tidak Harus Seragam”.
Slogan itu, kata Wahono, menegaskan bahwa setiap organisasi memiliki karakter, ideologi, dan perjuangan masing-masing yang tetap harus dihormati. Namun di balik perbedaan itu terdapat semangat yang sama, yakni memperjuangkan kesejahteraan masyarakat dan kemajuan daerah.
“Perbedaan adalah anugerah. Karena itu kami tidak ingin menyeragamkan organisasi. Setiap kelompok tetap memiliki identitas dan karakter perjuangannya sendiri,” katanya.
Aliansi Wargo Hutomo juga menegaskan komitmennya untuk menjaga keseimbangan antara stabilitas daerah dan iklim demokrasi yang sehat.
Menurut Wahono, pembangunan membutuhkan situasi yang kondusif. Namun di sisi lain, kebebasan berserikat, menyampaikan aspirasi, dan menjaga demokrasi tetap harus dihormati.
“Pembangunan daerah membutuhkan suasana yang kondusif, tetapi demokrasi dan kebebasan masyarakat juga harus tetap dijaga,” ujarnya.
Ia memastikan tidak ada unsur paksaan bagi organisasi lain untuk bergabung ke dalam aliansi tersebut. Keikutsertaan disebut sepenuhnya berdasarkan kesadaran masing-masing pihak terhadap pentingnya persatuan dalam membangun daerah.
Ke depan, Aliansi Wargo Hutomo berharap semakin banyak organisasi masyarakat di Banjarnegara yang terlibat untuk bersama-sama mengawal pembangunan daerah sekaligus memperkuat solidaritas sosial di tengah dinamika masyarakat.
(ief/fer)