Tolak Kongkalikong Medali, PERTINA Sulsel Mendaratkan Pengawas Kaliber Dunia di Wajo

by redaksi
0 comments

BERITABERSATU.COM, SENGKANG – Ring tinju Pekan Olahraga Provinsi (PORPROV) Sulsel XVIII Wajo-Bone 2026 yang dihelat di Lapangan Merdeka, Sengkang, dipastikan bakal membara. Di balik tensi tinggi adu jotos para atlet, tersimpan misi besar yang jauh lebih krusial. Pengurus Provinsi Persatuan Tinju Amatir Indonesia (Pengprov PERTINA) Sulsel secara resmi menabuh genderang perang terhadap salah satu musuh terbesar olahraga: mafia penilaian serta wasit dan juri (referee and judge / R&J) yang tidak adil.

Langkah konkret langsung diambil demi membentengi sportivitas di atas ring. Tidak tanggung-tanggung, sebuah keputusan berani dan berkelas dunia dieksekusi. PERTINA Sulsel mendaratkan Mohd Shamsul Bin Haji Dewan, seorang pengawas pertandingan kaliber internasional yang diboyong langsung dari Kuala Lumpur, Malaysia. Kehadirannya menjadi sinyal kuat bahwa era “main mata” di sudut ring harus segera berakhir.

Shamsul bukanlah figur sembarangan di dunia adu jotos amatir. Ia merupakan salah satu R&J yang memegang lisensi tertinggi: International Technical Official (ITO) di bawah naungan International Boxing Association (IBA). Rekam jejaknya terbentang luas dari panggung sekelas Commonwealth Games hingga Olimpiade. Di Wajo, ia memikul tanggung jawab besar untuk memelototi setiap juri dan wasit yang bertugas.

Kehadiran sosok sekaliber Shamsul menjadi sangat vital mengingat skala kompetisi yang masif kali ini. Sebanyak 151 atlet putra dan putri terbaik dari 18 kabupaten/kota di Sulsel sudah bersiap naik ring untuk memperebutkan 20 medali emas yang terbagi dalam 11 kelas putra dan 9 kelas putri. Di tengah sengitnya persaingan, godaan untuk berbuat curang demi sekeping medali jelas mengintai di setiap sudut.

Ketua Pengprov PERTINA Sulsel, Harpen Reza Ali, menegaskan bahwa langkah mendatangkan pengawas dunia ini adalah fondasi utama untuk melahirkan juara sejati. Baginya, olahraga tinju Sulsel tidak akan pernah maju jika hasil akhir di atas ring ditentukan oleh kongkalikong di bawah meja. Kualitas pertandingan harus dijaga agar talenta yang lahir benar-benar murni karena bakat dan kerja keras.

“Tahun depan kita akan menghadapi Babak Kualifikasi PON 2027. Lewat PORPROV inilah kita menyeleksi atlet yang benar-benar berkualitas,” tegas Harpen Reza Ali saat ditemui langsung di venue pertandingan, Lapangan Merdeka, Sengkang, Jumat (6/11/2026).

Harpen—yang juga putra tokoh olahraga nasional A. Reza Ali—mengingatkan dengan tegas agar tidak ada perangkat pertandingan yang berani bermain kotor. Menurutnya, satu keputusan juri yang tidak adil bisa menghancurkan keringat dan air mata atlet yang sudah bertahun-tahun berlatih.

Senada dengan sang ketua, Sekretaris Pengprov PERTINA Sulsel, Sri Syahril, menegaskan bahwa komitmen ini bukan sekadar gertakan sambal. Wasit dan juri dituntut berdiri tegak di tengah, adil, dan tanpa kompromi.

“Mendatangkan TD (Technical Delegate) berlisensi ITO ini bukan sekadar gagah-gagahan. Ini bukti nyata PERTINA Sulsel serius membina atlet,” cetus Sri Syahril yang bertindak sebagai penanggung jawab event.

Menurut wartawan olahraga senior yang telah tiga dekade lebih menekuni profesinya ini, pengawas asing berlisensi IBA memiliki komitmen serta integritas mutlak yang tidak bisa diintervensi oleh kepentingan lokal.

Namun, di tengah ambisi besar PERTINA Sulsel membangun fondasi prestasi menuju Pra-PON 2027 dan PON XXI NTB–NTT 2028, ada kerikil tajam yang mengganjal. Sri Syahril menyayangkan minimnya kepedulian dan ketidakseriusan Pemerintah Provinsi (Pemprov) Sulsel dalam mendukung iklim olahraga daerah.

Dukungan anggaran yang digelontorkan dinilai sangat minim, membuat fasilitas sarana dan prasarana olahraga bak pepatah ‘jauh panggang dari api’. Kondisi miris ini membuat Sri melayangkan kritik terbuka kepada Gubernur Sulsel. Ia berharap orang nomor satu di Sulsel tersebut bisa meniru ketegasan dan keseriusan saudaranya, Andi Amran Sulaiman, yang totalitas menjalankan amanah sebagai Menteri Pertanian.

“Olahraga Sulsel tidak akan bisa bicara banyak di level internasional jika para pengurus cabang dan atlet terus dibiarkan berjuang sendirian tanpa sokongan finansial yang memadai,” tegas Sri Syahril.

Menutup perbincangan, Sri menegaskan bahwa komitmen Pemprov Sulsel harus diwujudkan dalam bentuk kebijakan anggaran yang riil, bukan sekadar janji manis.

“Dukungan anggaran memadai adalah bentuk apresiasi atas prestasi para atlet yang mengharumkan nama Sulsel. Jangan sampai atlet, pelatih, dan pengurus cabor hanya dijadikan sapi perah,” pungkasnya dengan nada getir.

Pertandingan cabang olahraga tinju PORPROV Sulsel XVIII sendiri dijadwalkan berlangsung ketat mulai 7 hingga 12 November 2026.

You may also like