Ratusan Siswa SMKN 1 Boyolangu Diduga Alami Gangguan Perut Usai Santap Menu MBG

by Syamsuddin
0 comments

BERITABERSATU.COM, TULUNGAGUNG – Sejumlah siswa dan tenaga pendidik di SMK Negeri 1 Boyolangu, dilaporkan mengalami gangguan pencernaan setelah menyantap makanan dalam program Makan Bergizi Gratis (MBG) dari satuan pelayanan pemenuhan gizi (SPPG) Tanjungsari, Keluhan tersebut mulai dirasakan pada Rabu malam setelah para siswa mengonsumsi menu makan siang.

Pihak sekolah kemudian bergerak melakukan pendataan setelah menerima laporan dari siswa melalui wali kelas. Informasi awal menyebutkan, keluhan tidak hanya terjadi pada satu kelas, tetapi ditemukan di lebih dari tiga kelas.

Staf Humas bagian layanan informasi sekolah, Benny, mengatakan pihak sekolah mulai mengetahui adanya keluhan kesehatan setelah sejumlah siswa menyampaikan kondisi mereka kepada wali kelas.

“Anak-anak melaporkan ke wali kelas, kemarin malam sakit perut. Setelah itu wali kelas melaporkan ke pihak sekolah,” ujar Benny, kamis (17/9/26).

Menurutnya, setelah dilakukan pengecekan, ternyata terdapat siswa dari kelas lain yang juga mengalami keluhan serupa. Karena kasus tersebut ditemukan di lebih dari satu kelas, pihak sekolah kemudian melaporkannya kepada Dinas Kesehatan serta menghubungi pihak SPPG.

“Setelah diketahui lebih dari satu kelas, kami melaporkan ke pihak Dinkes dan juga menghubungi SPPG,” jelasnya.

Benny menyebut, berdasarkan keluhan yang disampaikan kepada sekolah, gejala yang dialami siswa relatif ringan. Keluhan yang muncul antara lain sakit perut dan diare.

“Gejalanya hanya diare. Tidak ada demam, tidak ada muntah,” katanya.

Selain melakukan penanganan awal, pihak SPPG juga memberikan bantuan obat-obatan kepada mereka yang mengalami keluhan.

Sementara itu, pendataan jumlah siswa yang mengalami gangguan kesehatan dilakukan oleh Dinas Kesehatan. Pihak sekolah belum mengetahui secara pasti jumlah keseluruhan siswa yang terdampak.

Namun, berdasarkan laporan sementara dari sekolah, pada Kamis pagi masih terdapat kurang dari 20 siswa yang mengeluhkan kondisi serupa. Sementara kasus yang terjadi sejak Rabu malam disebut telah didata oleh Dinas Kesehatan melalui pengisian Google Form.

“Kalau dari kami sendiri tadi pagi, yang masih ada keluhan tidak sampai 20 anak. Tapi kalau dari kejadian semalam dan siapa saja yang sudah merasakan, datanya ada di Dinkes,” ungkap Benny.

Benny mengaku belum mengetahui angka pastinya. Namun, ia memperkirakan jumlahnya bisa mencapai sekitar 100 siswa.

“Yang jelas lebih dari tiga kelas. Perkiraan sekitar 100,” ujarnya.

Jumlah tersebut masih berupa perkiraan dari pihak sekolah dan belum merupakan data resmi keseluruhan dari Dinas Kesehatan.

Sekolah sendiri memiliki sekitar 1.600 siswa sehingga tidak seluruh siswa mengalami keluhan kesehatan tersebut.

Sejumlah guru dan tenaga tata usaha (TU) juga disebut mengalami sakit perut setelah mengonsumsi makanan yang sama.

“Dari pihak guru dan TU sekitar 10 atau belasan yang sudah mengeluhkan. Cuma hanya sekali,” jelasnya.

Menu MBG yang dikonsumsi pada Rabu siang disebut antara lain berupa ayam bakar, sambal dan buah. Keluhan kesehatan kemudian muncul pada malam harinya.

“Diperkirakan yang menu Rabu siang,” kata Benny.

Menariknya, pihak sekolah menyebut tidak menemukan kecurigaan terhadap makanan ketika dikonsumsi pada siang hari. Bahkan, berdasarkan penilaian sejumlah siswa maupun Guru, menu tersebut disebut memiliki rasa yang enak.
Benny mengatakan sejumlah siswa bahkan sempat meminta nambah makanan.

“Secara rasa, enak. Ada yang tanya, Pak, tambah boleh enggak,” tuturnya.

Karena itu, pihak sekolah belum dapat memastikan penyebab munculnya gangguan kesehatan tersebut. Benny juga menyebut ada kemungkinan keluhan berkaitan dengan sambal, namun hal itu masih sebatas dugaan dan belum dapat dipastikan.

Pihak sekolah kini menunggu hasil pendataan serta pemeriksaan dari Dinas Kesehatan untuk mengetahui lebih jelas penyebab munculnya keluhan kesehatan yang dialami siswa maupun tenaga pendidik.

Data resmi mengenai jumlah warga sekolah yang terdampak maupun penyebab gangguan kesehatan masih menunggu hasil penanganan dari pihak terkait. (Agus)

You may also like