Unik! Warga Dua Dusun di Jember Gelar Pengajian Maulid Nabi, Panggung Berdiri di Atas Sungai

by Syamsuddin
0 comments

BERITABERSATU.COM, JEMBER — Ratusan warga dari Dusun Ponjen Lor dan Dusun Gumuk Banji, Lingkungan Gotong Royong, Desa Kencong, Kecamatan Kencong, Kabupaten Jember, menggelar pengajian dan sholawat dalam rangka memperingati Maulid Nabi Muhammad SAW.Sabtu, (29/08/2026).

Yang membuat kegiatan ini begitu istimewa sekaligus unik adalah lokasi pelaksanaannya. Berbeda dengan kegiatan pengajian pada umumnya yang biasanya digelar di masjid, balai desa, atau lapangan terbuka, kali ini panggung utama pengajian justru didirikan tepat di atas permukaan air Sungai Kali Meneng yang membatasi kedua dusun tersebut.

Panggung yang dibangun melintang di atas sungai tampak kokoh berdiri di tengah aliran air.Dihiasi sederhana namun rapi, dan diterangi lampu-lampu dari obor bambu di pinggiran sungai dengan sinar temaram yang memantul ke permukaan air, menciptakan suasana sakral sekaligus mempesona. Warga tampak duduk tertib di tepian sungai di kedua sisi, menyimak pengajian dan melantunkan sholawat bersama dengan khusyuk.

Wawan, selaku panitia pelaksana kegiatan, menjelaskan bahwa pemilihan lokasi di atas sungai ini bukan tanpa alasan. Pihaknya memang sengaja merancang konsep tersebut agar pengajian Maulid Nabi tahun ini memiliki kesan yang berbeda dan makna yang mendalam.

“Pengajian ini sengaja kami letakkan panggungnya di atas air Kali Meneng karena selama ini belum pernah ada yang melaksanakannya seperti ini. Inilah yang membuat kegiatan ini menjadi unik dan berbeda dari tahun-tahun sebelumnya,” ujar Wawan kepada awak media di lokasi kegiatan.

Lebih dari sekadar keunikan, penempatan panggung di tengah sungai yang menjadi batas wilayah antara Dusun Ponjen Lor dan Dusun Gumuk Banji ternyata menyimpan filosofi yang sangat dalam. Sungai Kali Meneng dianggap sebagai wilayah netral yang tidak memihak salah satu dusun, sehingga dapat menghindari munculnya perdebatan atau pro dan kontra terkait penentuan lokasi kegiatan.

“Selain itu, sungai Kali Meneng yang selama ini menjadi batas alami antara dua dusun ini kami jadikan simbol kerukunan dan sarana mempererat silaturahmi. Batas wilayah fisik tidak boleh menjadi pemisah hati dan persaudaraan kita, justru di sini kita bertemu, bersatu, dan bersholawat bersama di atas titik yang netral,” tambah Wawan.

Warga menyambut antusias dan bangga dengan ide kreatif tersebut. Terlihat warga dari kedua dusun bahu-membahu sejak awal persiapan, mulai dari pembangunan panggung di atas sungai, pengadaan sound system, hingga penyediaan konsumsi secara gotong royong tanpa ada sekat kepentingan. Kegiatan ini pun berjalan dengan aman, tertib, dan penuh suasana kekeluargaan yang harmonis.

Pengajian dan pembacaan sholawat berlangsung khidmat sepanjang malam, diisi dengan ceramah agama, serta lantunan sholawat yang dilantunkan bersama oleh seluruh jamaah yang hadir. Suara sholawat bergema di sepanjang aliran sungai, seolah mengalir bersama air Kali Meneng sebagai bukti kebersamaan warga tanpa sekat.

Kegiatan ini tidak hanya menjadi sarana ibadah dan memperingati kelahiran Rasulullah, tetapi juga menjadi bukti nyata bahwa masyarakat di dua dusun tetap menjaga persatuan dan kesatuan. Batas wilayah sungai yang memisahkan dusun justru disatukan menjadi titik temu yang memperkuat ikatan persaudaraan, meneladani semangat Nabi Muhammad SAW yang datang sebagai rahmat bagi seluruh alam dan penyatu persaudaraan umat manusia. (Tahrir)

You may also like