BERITABERSATU.COM, PALU — Sebanyak 520 pendaftar program SMK Global dinyatakan lolos administrasi dan melanjutkan ke tahap seleksi wawancara serta tes tertulis. Dari proses tersebut, sebanyak 220 peserta akan mengikuti pelatihan dalam dua batch dan disiapkan untuk memasuki dunia kerja, termasuk peluang penempatan ke luar negeri.
Kepala BP3MI Mustaqim, S.Sos., M.Si., CS mengatakan pelaksanaan seleksi dilakukan secara hybrid. Peserta yang berada di sekitar Kota Palu dapat mengikuti seleksi secara langsung, sedangkan peserta dari daerah lain dapat mengikuti proses seleksi secara daring.
“Administrasinya ada 520 yang lolos. Setelah itu masuk tahapan berikutnya, yaitu seleksi wawancara dan tertulis,” kata Mustaqim.
Dari jumlah tersebut, peserta yang mengikuti pelatihan akan dibagi dalam dua batch. Batch I berjumlah 140 orang, sedangkan Batch II sebanyak 80 orang, sehingga total peserta yang diproyeksikan mengikuti program mencapai 220 orang.
Mustaqim mengatakan bidang pelatihan disesuaikan dengan kebutuhan dunia kerja. Sejumlah bidang yang disiapkan antara lain perhotelan, housekeeping, serta keterampilan teknis lainnya.
Program SMK Global, kata dia, tidak hanya ditujukan bagi lulusan sekolah menengah kejuruan. Masyarakat umum juga memiliki kesempatan untuk mendaftar sesuai persyaratan yang ditetapkan.
“Kadang-kadang orang salah persepsi, dipikirnya program SMK Global itu hanya untuk SMK. Padahal masyarakat umum juga boleh,” ujarnya.
Menurut Mustaqim, salah satu keunikan program tersebut adalah keterkaitan langsung antara pelatihan dan peluang kerja. Peserta tidak hanya mendapatkan pelatihan secara gratis hingga sertifikat kompetensi, tetapi juga diarahkan memiliki peluang penempatan setelah menyelesaikan pelatihan.
Untuk memastikan pelatihan sesuai kebutuhan perusahaan, BP3MI melibatkan Perusahaan Penempatan Pekerja Migran Indonesia (P3MI) dalam proses perencanaan dan seleksi.
P3MI diminta menyampaikan kebutuhan tenaga kerja dan peluang pekerjaan yang tersedia. Informasi tersebut kemudian menjadi salah satu dasar dalam menentukan bidang pelatihan peserta.
“Kami tanya peluang kerja apa saja yang ada. Makanya penentuan bidang pelatihan itu kami sesuaikan dengan kesempatan kerja yang dimiliki P3MI,” kata Mustaqim.
Dia mengatakan pola tersebut bertujuan mencegah peserta selesai mengikuti pelatihan tetapi tidak memiliki peluang kerja yang sesuai.
“Jangan sampai mereka sudah selesai pelatihan, ternyata tidak ada kesempatan kerja,” ujarnya.
Mustaqim menjelaskan SMK Global merupakan bagian dari program pemerintah untuk meningkatkan kompetensi tenaga kerja Indonesia agar mampu bersaing di pasar kerja internasional.
Pada 2026, pemerintah disebut mengalokasikan anggaran sekitar Rp1,5 triliun untuk program pelatihan dengan target sekitar 40 ribu peserta.
Menurut Mustaqim, keberhasilan program tidak semata-mata diukur berdasarkan realisasi anggaran. Hal yang lebih penting adalah hasil akhir berupa peserta yang memiliki kompetensi, siap bekerja, dan siap ditempatkan.
“Jangan sekadar untuk merealisasikan anggaran, tapi outcome-nya harus betul-betul jelas. Mereka yang dilatih harus siap bekerja dan siap ditempatkan,” katanya.
Peserta juga diminta memiliki komitmen untuk bekerja ke luar negeri serta mendapatkan persetujuan dari orang tua.
Persetujuan orang tua menjadi salah satu tantangan dalam pelaksanaan program di Sulawesi Tengah. Mustaqim mengatakan masih terdapat keluarga yang memiliki kekhawatiran terhadap keselamatan anggota keluarganya jika bekerja di luar negeri.
Dia menegaskan program tersebut diarahkan pada penempatan sektor formal, yakni peserta bekerja pada perusahaan, bukan secara individual.
“Ini sektor formal. Artinya mereka bekerja di perusahaan, bukan individu. Pemerintah juga menyiapkan kesempatan kerja yang terverifikasi dan aman,” ujarnya.
Mustaqim berharap 220 peserta yang mengikuti dua batch pelatihan tersebut dapat menjalani proses secara disiplin sehingga keterampilan yang diperoleh benar-benar sesuai dengan kebutuhan perusahaan.
Program SMK Global diharapkan tidak berhenti pada pemberian sertifikat kompetensi, tetapi mampu menghasilkan tenaga kerja yang siap bekerja dan memiliki peluang memasuki pasar kerja internasional. (Mad)