Perempuan di Garis Depan: Bertahan, Berjuang, dan Bangkit Bersama PNM

by Editor Muh. Asdar
0 comments

Beritabersatu.com, Blitar – Air mata sering kali jatuh tanpa suara dari balik helm yang dikenakan Triyulianti. Di jalanan yang riuh, ia mengais rezeki sebagai pengemudi ojek online demi empat anaknya yang masih kecil. Hidup yang serba terbatas memaksanya menahan rindu, bahkan pada bayinya yang baru berusia tiga bulan.

“Setiap hari saya harus pergi meninggalkan anak yang masih bayi,” tuturnya pelan, menyembunyikan rasa perih di balik kesibukan.

Kisah serupa datang dari Novi, seorang sopir taksi yang menghabiskan hari-harinya di jalan sejak dini hari hingga malam. Semua dilakukan demi satu tujuan: masa depan anaknya.

“Apapun akan saya lakukan demi anak saya,” ucapnya, dengan nada penuh tekad.

Triyulianti dan Novi hanyalah dua dari sekian banyak perempuan Indonesia yang memikul beban ekonomi keluarga. Mereka tidak hanya berperan sebagai ibu, tetapi juga tulang punggung yang menopang kehidupan. Di tengah keterbatasan, mereka tetap melangkah demi memberi harapan bagi keluarga.

Harapan Baru di Tengah Keterbatasan

Di tengah perjuangan perempuan prasejahtera, hadir PT Permodalan Nasional Madani (PNM) sebagai jembatan menuju kemandirian. Lembaga ini mengusung misi untuk membuka akses pembiayaan dan pemberdayaan bagi pelaku usaha ultra mikro, khususnya perempuan.

Melalui program andalannya, PNM Mekaar (Membina Ekonomi Keluarga Sejahtera), PNM tidak hanya menyalurkan modal usaha, tetapi juga memberikan pendampingan intensif. Para nasabah mendapatkan pembinaan rutin, pelatihan pengelolaan keuangan, hingga penguatan keterampilan usaha.

Salah satu kekuatan utama program ini adalah sistem kelompok kecil atau tanggung renteng. Dalam satu kelompok, para perempuan saling terhubung dan mendukung. Mereka bukan hanya penerima pembiayaan, tetapi juga bagian dari jaringan solidaritas.

Jika ada anggota yang mengalami kesulitan, anggota lain turut membantu. Pendampingan dilakukan oleh Account Officer (AO) secara berkala, memastikan setiap usaha tetap berjalan dan berkembang.

Selain itu, PNM juga menyediakan skema pembiayaan berbasis syariah melalui Mekaar Syariah. Sistem ini menggunakan akad sesuai prinsip syariah seperti murabahah, wakalah, dan wadiah, tanpa bunga, namun tetap dengan pola pendampingan yang sama.

Dampak Nyata untuk Jutaan Perempuan

Direktur Utama PNM, , menegaskan bahwa selama lebih dari dua dekade, PNM menjalankan amanah negara untuk mendorong kesejahteraan masyarakat prasejahtera.

“Selama 26 tahun, PNM berkomitmen menciptakan dampak sosial dan ekonomi bagi masyarakat Indonesia,” ujarnya.

Sementara itu, menekankan pentingnya peran perempuan dalam pembangunan.

“Semakin kuat perempuan, semakin kuat bangsa,” tegasnya.

Ia juga menyebut bahwa mayoritas pembiayaan PNM telah berbasis syariah, disertai dengan pendampingan agar para nasabah mampu berkembang secara berkelanjutan.

Hingga Februari 2026, PNM telah menjangkau sekitar 22,9 juta perempuan di lebih dari 60 ribu desa dan kelurahan di seluruh Indonesia. Capaian ini menjadikan PNM sebagai salah satu institusi pemberdayaan perempuan terbesar di dunia.

Program ini bukan sekadar soal modal, melainkan tentang membangun keberanian, kemandirian, dan masa depan yang lebih baik bagi perempuan Indonesia.(Zan)

You may also like