BERITABERSATU.COM, SINJAI — Di saat sebagian besar warga Sinjai bersiap untuk santap sahur atau terlelap setelah tadarus, deru mesin motor patroli sayup-sayup memecah keheningan malam. Di balik kemudi kebijakan yang membuat Ramadan 2026 ini terasa lebih teduh, ada sosok AKBP Jamal Fathur Rakhman. Sejak fajar 2026 menyingsing, ia tidak hanya datang membawa tongkat komando, tapi juga sebuah pendekatan yang jarang ditemukan: Ketegasan yang dibungkus dengan empati.
Di Kabupaten Sinjai, polisi bukan lagi sosok yang hanya muncul saat ada masalah. Melalui filosofi “Polri Sahabat Masyarakat”, Jamal Fathur Rakhman meruntuhkan sekat birokrasi. Kegemarannya turun ke lapangan, entah itu memantau smash di lapangan voli PBVSI atau membidik sasaran bersama Perbakin, adalah caranya “membaca” denyut nadi warga.
Bagi Jamal, menjaga Sinjai bukan sekadar menjalankan prosedur tetap (protap), melainkan menjaga “rumah” sendiri. Ia menekankan bahwa kedekatan emosional adalah kunci stabilitas yang organik.
“Kami tidak ingin masyarakat merasa diawasi oleh aparat, tapi merasa ditemani oleh sahabat. Keamanan yang hakiki itu lahir dari rasa saling percaya. Jika warga percaya pada polisinya, mereka akan menjadi mata dan telinga kami di lapangan,” ujar AKBP Jamal Fathur Rakhman dengan nada tenang namun tegas.
Namun, keramahan bukan berarti kompromi. Di balik keriuhan pasar takjil dan syahdunya tarawih, ada kerja intelijen yang presisi. Kasat Intelkam, IPTU Hasan, bergerak dalam senyap melakukan pemetaan wilayah rawan. Dari gang-gang sempit hingga perbatasan, deteksi dini terhadap peredaran narkoba dan miras diperketat.
“Kami tidak ingin kekhusyukan ini ternoda oleh penyakit masyarakat,” tegas IPTU Hasan saat berdialog dengan tokoh masyarakat H. Suradi.
Kapolres Sinjai, menambahkan bahwa fokus pada pemberantasan narkoba dan miras selama Ramadan bukan tanpa alasan. Baginya, zat-zat tersebut adalah hulu dari segala kekacauan kamtibmas.
“Ramadan adalah bulan penyucian diri. Maka, tugas kami adalah memastikan lingkungan fisik mereka juga bersih dari pengaruh negatif seperti miras, narkotika, hingga gangguan bising petasan. Kami hadir untuk menjamin setiap sujud warga di masjid terasa tenang, tanpa rasa was-was akan kendaraan yang hilang atau gangguan balap liar di luar sana,” tambah sang Kapolres.
Langkah strategis Polres Sinjai musim ini tidak kaku. Patroli dilakukan pada jam-jam rawan, saat euforia remaja seringkali berubah menjadi balap liar yang mengganggu. Polisi hadir bukan untuk membubarkan kegembiraan, tapi memastikan kegembiraan itu tidak melukai orang lain.
Kapolres tak segan mengetuk pintu warga prasejahtera untuk menyalurkan bantuan sosial secara langsung. Ini adalah diplomasi “ketukan pintu” yang terbukti efektif menciptakan ketenangan di Bumi Panrita Lopi.
Bahkan Menjelang puncak hari raya Idul Fitri 1447 H, AKBP Jamal Fathur Rakhman memastikan pasukannya tidak akan kendor. Baginya, keberhasilan pengamanan adalah sebuah estafet yang harus dituntaskan hingga hari kemenangan tiba.
“Ini bukan sprint, tapi maraton. Anggota kami instruksikan untuk tetap humanis namun tanpa toleransi bagi mereka yang nekat mengganggu ketertiban umum. Target kami satu: Masyarakat Sinjai bisa merayakan hari kemenangan dengan senyum,” tutupnya.
Kini, warga Sinjai dapat bernapas lega. Dengan kepemimpinan yang bervisi “Sahabat Masyarakat”, keamanan bukan lagi sebuah kemewahan, melainkan sebuah kepastian yang hadir di tengah doa-doa mereka. (**)