BERITABERSATU.COM, SINJAI – Gerak cepat (gercep) diperlihatkan Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Sinjai dalam merespons ancaman virus Flu Burung (Avian Influenza) yang menyerang ternak unggas warga. Tak butuh waktu lama, hanya dalam kurun tiga hari setelah koordinasi, Pemkab Sinjai sukses mengamankan ratusan ribu dosis vaksin dan berbagai bantuan logistik dari pemerintah pusat serta provinsi.
Bantuan tersebut diterima langsung oleh Bupati Sinjai, Hj. Ratnawati Arif, di Rumah Jabatan Bupati Sinjai pada Senin (12/10/2026). Ia didampingi oleh Staf Ahli Bupati A. Himawan Saleh dan Kepala Dinas Peternakan dan Kesehatan Hewan (DPKH) Sinjai, Syamsul Alam.
Dukungan amunisi ini datang langsung dari Kementerian Pertanian RI melalui Pusat Veteriner Farma (Pusvetma) Surabaya, serta Pemprov Sulawesi Selatan via Balai Besar Veteriner (BBVet) Maros.
“Alhamdulillah, berkat kerja sama yang baik, pemerintah pusat maupun provinsi merespons sangat cepat. Dalam waktu tiga hari setelah pertemuan kemarin, hari ini bantuannya sudah kita terima dan siap disalurkan,” ujar Ratnawati penuh rasa syukur.
Langkah taktis ini diambil mengingat eskalasi kasus yang cukup serius. Hingga 12 Oktober 2026, tercatat sebanyak 4.940 ekor ayam mati akibat flu burung, dengan persebaran di 23 desa yang mencakup tujuh kecamatan di Kabupaten Sinjai.
Untuk menekan laju penularan, Pemkab Sinjai menyiagakan 150.000 dosis vaksin, lengkap dengan cairan disinfektan, Alat Pelindung Diri (APD) untuk petugas lapangan, dan obat-obatan pendukung lainnya.
Pj Bupati imbau warga dan peternak untuk memperketat kebersihan kandang (biosecurity) serta tak ragu melapor jika menemukan gejala janggal pada ternak mereka.
Sementara itu, Kepala DPKH Sinjai, Syamsul Alam, membeberkan strategi khusus dalam mengeksekusi program vaksinasi massal ini. Mengingat total populasi ayam di Sinjai menembus angka lebih dari 1 juta ekor, pihaknya membidik sekitar 15–20% populasi sebagai target vaksinasi tahap awal.
Namun, penyuntikan vaksin tidak akan dilakukan secara asal-asalan. DPKH menerapkan metode pemetaan mikro berbasis zonasi hingga tingkat dusun.
“Secara teori, vaksin hanya diperuntukkan bagi ayam yang masih sehat. Ayam yang sudah terpapar atau berada di zona merah tertular tidak divaksin lagi, melainkan ditangani melalui penyemprotan disinfektan dan pemberian vitamin,” jelas Syamsul Alam.
Saat ini, tim dokter hewan dan petugas dari Pusat Kesehatan Hewan (Puskeswan) telah diterjunkan ke lapangan untuk menyisir daerah hijau (bebas kasus) yang akan diprioritaskan menerima suntikan vaksin. Langkah terukur ini diharapkan mampu membentengi populasi unggas yang sehat sekaligus memutus rantai penularan Flu Burung di Kabupaten Sinjai secara total. (Adv)