Beritabersatu.com, Blitar – Pelaksanaan ibadah haji tidak lagi hanya bergantung pada kesiapan administrasi dan kesehatan jemaah. Dinamika geopolitik dunia, khususnya di kawasan Timur Tengah, juga menjadi faktor yang harus diantisipasi sejak dini.
Hal itu disampaikan Anggota Komisi VIII DPR RI, K.H. An’im Falachuddin atau yang akrab disapa Gus An’im, saat menggelar Sosialisasi Persiapan Penyelenggaraan Ibadah Haji Tahun 2027 di Pondok Pesantren Darur Roja’, Desa Selokajang, Kecamatan Srengat, Kabupaten Blitar, Selasa (28/7/2026).
Menurut Gus An’im, sosialisasi sengaja dilakukan lebih awal agar calon jemaah maupun para pemangku kepentingan memiliki waktu yang cukup untuk mempersiapkan diri menghadapi penyelenggaraan haji tahun depan.
“Memang kita awali sosialisasi ini agar persiapan penyelenggaraan ibadahnya bisa lebih baik lagi. Nanti Kementerian Agama juga akan memberikan sosialisasi terkait aturan-aturan, termasuk jika ada kebijakan baru,” ujarnya.
Namun, perhatian Gus An’im tidak hanya tertuju pada aspek teknis penyelenggaraan haji. Ia menilai perkembangan situasi keamanan dan politik di Timur Tengah perlu menjadi perhatian serius pemerintah.
Ia bersyukur konflik yang sempat memanas antara Amerika Serikat dan Iran tidak berkembang hingga berdampak langsung terhadap Arab Saudi, sehingga pelaksanaan ibadah haji sebelumnya tetap berjalan lancar.
“Alhamdulillah kemarin tidak sampai berpengaruh. Amerika dan Iran juga tidak sampai melakukan eskalasi yang meluas ke Arab Saudi,” katanya.
Meski demikian, Gus An’im mengingatkan situasi kawasan masih menyimpan potensi risiko. Berbagai konflik yang terjadi, termasuk ketegangan yang melibatkan kelompok Houthi di Yaman, menurutnya harus menjadi bahan evaluasi dalam penyusunan kebijakan penyelenggaraan haji.
Karena itu, ia meminta pemerintah, khususnya kementerian yang menangani urusan haji, menyiapkan berbagai skenario antisipasi apabila sewaktu-waktu kondisi geopolitik berubah.
“Kita mewanti-wanti agar pemerintah memiliki planning pertama, planning kedua, sehingga jika terjadi perkembangan situasi internasional, penyelenggaraan haji tetap dapat berjalan dengan baik,” tegasnya.
Selain isu keamanan, Gus An’im juga menyinggung harapan Indonesia memperoleh tambahan kuota haji pada masa mendatang. Menurutnya, penambahan kuota sangat bergantung pada kapasitas dan kesiapan pemerintah Arab Saudi dalam menerima jemaah dari berbagai negara.
“Harapan kita, kalau persiapan di Saudi semakin baik dan daya tampungnya bertambah, Indonesia juga bisa mendapatkan tambahan kuota haji,” pungkasnya.
Sebagai informasi, kegiatan ini juga menggandeng Kementerian Haji dan Umrah Republik Indonesia untuk memberikan pemaparan mengenai berbagai regulasi terbaru dalam penyelenggaraan ibadah haji. Langkah ini dilakukan agar calon jemaah dan pembimbing, memahami sejak dini setiap perubahan kebijakan yang akan diterapkan pada musim haji 2027.(Zan)