BERITABERSATU.COM, JEMBER — Gelaran karnaval yang melibatkan sound system berukuran besar atau yang populer dengan sebutan sound horeg selama ini kerap menjadi perhatian publik. Tidak sedikit kegiatan serupa yang kemudian menuai sorotan karena berbagai persoalan, mulai dari penggunaan jalan yang dinilai kurang tertib, kerusakan fasilitas, hingga persoalan teknis maupun sosial yang muncul selama pelaksanaan kegiatan.
Berangkat dari berbagai persoalan tersebut, panitia Kencong Fest Carnival mencoba menghadirkan konsep berbeda. Pengelolaan peserta, khususnya sound system yang mengikuti karnaval, dibuat lebih terukur dengan menerapkan aturan waktu dan jarak yang telah diperhitungkan sejak awal.
Konsep tersebut diharapkan tidak hanya membuat pelaksanaan Kencong Fest Carnival berjalan lebih tertib, tetapi juga dapat menjadi model baru dalam penyelenggaraan karnaval yang melibatkan sound system dalam jumlah besar.
Ketua Panitia Kencong Fest Carnival, Heru Tomas, mengatakan pihaknya sengaja melakukan berbagai kajian sebelum menentukan pola pelaksanaan kegiatan. Salah satu yang menjadi perhatian adalah bagaimana mengatur jarak antarpeserta, waktu perjalanan, hingga penampilan masing-masing sound system agar tidak terjadi penumpukan di sepanjang jalur karnaval.
Dalam gelaran tersebut, sebanyak 34 sound system akan mengikuti kegiatan dengan menempuh perjalanan kurang lebih 3 kilometer, mulai dari titik start hingga finish.
Panitia memberikan batas waktu yang jelas kepada setiap peserta. Masing-masing sound system diberi waktu sekitar lima jam, terhitung sejak start hingga mencapai garis finish.
Menurut Heru, pemberian batas waktu tersebut merupakan bagian dari upaya panitia menciptakan pola pelaksanaan yang lebih teratur. Dengan adanya pengaturan waktu, peserta diharapkan dapat menyesuaikan performanya sehingga tidak terjadi antrean atau penumpukan yang berpotensi mengganggu kelancaran kegiatan.
“Kami Kencong berbeda, kami terapkan role model dan waktu yang kita tentukan. Jika ini berhasil, Kecamatan Kencong bisa jadi percontohan,” kata Heru Tomas.
Ia menambahkan, konsep tersebut tidak dibuat secara spontan. Panitia telah melakukan berbagai kajian, termasuk mempertimbangkan jarak, waktu tempuh, durasi penampilan, serta performa peserta.
Hal itu dilakukan agar seluruh rangkaian kegiatan tetap dapat berlangsung meriah, namun di sisi lain tetap memperhatikan ketertiban dan kenyamanan masyarakat.
Dengan konsep tersebut, Kencong Fest Carnival diharapkan mampu memberikan gambaran bahwa kegiatan karnaval dengan jumlah sound system yang cukup banyak tetap dapat dilaksanakan melalui manajemen yang terukur.
Tidak hanya mengedepankan konsep pengaturan peserta, Kencong Fest Carnival juga membawa agenda khusus yang diharapkan menjadi salah satu catatan penting dalam pelaksanaan kegiatan.
Panitia berencana menggelar aksi bersama yang melibatkan seluruh 34 sound system peserta. Pada waktu yang telah ditentukan, seluruh sound system akan secara bersamaan membunyikan lagu Indonesia Raya dan dilanjutkan dengan mengheningkan cipta.
Aksi tersebut juga akan melibatkan masyarakat yang berada di sepanjang jalur karnaval. Panitia mengajak masyarakat untuk berdiri, memberikan penghormatan, serta bersama-sama menyanyikan lagu kebangsaan.
Tim teknis Kencong Fest Carnival, M Rochul Ulum, atau yang akrab disapa Mas Pitix, menjelaskan bahwa aksi tersebut menjadi salah satu agenda yang telah dipersiapkan secara khusus.
“Kami adakan pecah rekor MURI dengan membunyikan bersama-sama pada jam yang sudah kami tentukan. Selain itu, kami ajak masyarakat berdiri dan hormat, bernyanyi bersama menyanyikan lagu Indonesia Raya,” jelasnya.
Menurutnya, pengaturan waktu menjadi bagian penting dalam pelaksanaan agenda tersebut. Sebab, 34 sound system harus menjalankan aksi secara bersamaan sesuai waktu yang telah ditentukan panitia.
Selain agenda pemecahan rekor, rangkaian acara juga akan dilanjutkan dengan kegiatan di titik finish. Salah satunya adalah fashion show dengan berbagai tema.
“Selain itu di finish juga kami adakan fashion show dengan berbagai tema,” imbuhnya.
Konsep yang diterapkan panitia Kencong Fest Carnival mendapat harapan besar dari pihak yang terlibat dalam kegiatan tersebut. Salah satunya datang dari Ketua Jember Sound System Community (JSSC), Arief Sugihartani, yang juga dikenal sebagai pemilik salon TMA Pro Audio.
Arief berharap konsep pengaturan sound system yang diterapkan di Kencong dapat berjalan sesuai perencanaan. Menurutnya, apabila pola tersebut berhasil diterapkan, bukan tidak mungkin konsep serupa dapat menjadi contoh bagi penyelenggara kegiatan di daerah lain.
“Kami mohon doa, dan jika ini berhasil diterapkan di Kencong, saya yakin ini sebagai tempat percontohan,” pungkas Arief.
Dengan berbagai persiapan tersebut, Kencong Fest Carnival tidak hanya ingin menghadirkan hiburan bagi masyarakat. Lebih dari itu, panitia mencoba membangun pola baru dalam penyelenggaraan karnaval yang melibatkan sound system dalam jumlah besar.
Pengaturan waktu, jarak, hingga koordinasi teknis menjadi bagian dari konsep yang diharapkan mampu menjawab berbagai persoalan yang selama ini kerap muncul dalam kegiatan karnaval.
Jika konsep tersebut berjalan sesuai rencana, Kencong Fest Carnival diharapkan dapat menjadi salah satu contoh bahwa kemeriahan sebuah karnaval dapat berjalan beriringan dengan ketertiban, pengaturan lalu lintas peserta, serta penghormatan terhadap masyarakat dan ruang publik.
Bahkan, keberhasilan pelaksanaan konsep tersebut diharapkan dapat menjadikan Kecamatan Kencong sebagai salah satu barometer penyelenggaraan karnaval sound system di Jawa Timur, khususnya dalam hal manajemen peserta dan pengaturan waktu. (Adv/Tahrir)