BERITABERSATU.COM,Pemalang – Sejumlah wali orang tua siswa SMPN di Kabupaten Pemalang mangaku kesel dipermainkan saat hendak membeli seragam sekolah.
Pasalnya, siswa yang baru diterima di SMPN ini diarahkan membeli seragam dari pihak sekolah ke toko tertentu, lalu mewajibkan membeli seluruh bahan seragam sekolah.
Hal ini diungkapkan Heppy wali murid siswa baru di SMPN 2 Taman. Dirinya menceritakan bahwa sehari sebelumnya ia mendatangi sekolah untuk membeli sejumlah perlengkapan, seperti emblem kain, seragam olahraga, dan seragam batik.
Namun pihak sekolah mengaku tidak menyediakan seragam batik, ia pun diarahkan untuk membeli seragam batik tersebut ke salah satu toko yang terletak di Jalan Sudirman Pemalang.
“Saya tanya ke pihak sekolah, ‘beli (bahan) batiknya dimana?’, saya diarahkan ke Toko Istra. Kalau seragam yang lain boleh beli yang sudah dijahit (pakaian jadi),” ungkap Heppy dalam keterangan persnya, Senin (6/7/2026).
Mengikuti arahan tersebut, Heppy lantas mendatangi Toko Istra untuk membeli bahan seragam batik. Tetapi setibanya di toko, ia tak diperbolehkan membeli sepotong bahan seragam batik sekolah anaknya.
Pihak Toko Istra mengharuskan pembelian dalam satu paket yang berisi bahan seragam OSIS, Pramuka, dan batik SMP Negeri 2 Taman dengan harga sekitar Rp600 ribu.
“Waktu ke Toko Istra, disana saya malah disuruh beli paketan, enggak boleh cuma beli bahan seragam batik, ditolak,” ungkap Heppy.
“Katanya kalau cuma beli bahan batik saja baru bisa tanggal 20 Juli. Padahal anak sekolah mulai masuk tanggal 13,” imbuhnya.
Dirinya pun sangat kecewa dan merasa dipermainkan. Ia menilai ada yang ketidak beresan dalam proses pengadaan seragam sekolah.
“Pendidikan itu harusnya memudahkan, bukan mempersulit. Kasihan orang-orang yang sudah datang jauh-jauh akhirnya pulang tangan kosong, karena ternyata harus beli sepaket, tidak sesuai info dari sekolah. Banyak yang mengeluh.” tegasnya.
Menanggapi keluhan tersebut, Petugas Koperasi SMP Negeri 2 Taman, Marwiyah, membenarkan bahwa sekolah tidak menyediakan bahan seragam identitas atau seragam batik khas SMP Negeri 2 Taman.
Menurutnya, kebutuhan tersebut memang diarahkan untuk dibeli di Toko Istra. “Karena memang sekolah enggak boleh jualan seragam, hanya boleh atribut saja,” tuturnya.
Terkait kemungkinan adanya kerja sama antara pihak sekolah dengan Toko Istra dalam penyediaan bahan seragam, Marwiyah mengaku tidak memiliki kewenangan untuk memberikan penjelasan.
“Mohon maaf untuk itu saya enggak bisa jawab, itu mungkin yang bisa menjawab atasan,” terang Marwiyah.
Meski demikian, ia memastikan keluhan yang disampaikan wali murid tersebut akan diteruskan kepada Kepala SMP Negeri 2 Taman untuk mendapatkan tindak lanjut.(*)