BERITABERSATU.COM, Pemalang – Nasib memprihatinkan dialami Rekso Joyo Santoso (61), warga Kelurahan Kebondalem, Kecamatan Pemalang, Kabupaten Pemalang. Bekerja sebagai tukang parkir dengan penghasilan tak menentu, ia justru tercatat dalam kategori Desil 8 pada data kesejahteraan sosial.
Rekso mengaku terkejut mengetahui status tersebut. Menurutnya, kondisi ekonomi yang dijalani sehari-hari jauh dari kata berkecukupan. Ironisnya, ia mengaku belum pernah didatangi petugas untuk dilakukan pendataan atau sensus terkait kondisi sosial ekonominya.
Sehari-hari, Rekso menggantungkan hidup dari pekerjaan sebagai tukang parkir di kawasan Alun-alun Pemalang. Penghasilannya tidak menentu dan hanya cukup untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari.
Ia mengaku sudah berulang kali mendatangi kantor kelurahan untuk menyampaikan kondisi ekonominya sekaligus berharap bisa masuk dalam daftar penerima bantuan sosial (bansos).
Namun, harapan tersebut belum juga terwujud. Ia enyebut pihak kelurahan sempat menjanjikan survei atau verifikasi langsung ke tempat tinggalnya. Sayangnya, hingga sekitar enam bulan berlalu, petugas yang ditunggu tak kunjung datang.
“Sudah bolak-balik ke kelurahan. Katanya mau disurvei, tetapi orangnya tidak datang-datang. Sudah sekitar setengah tahun menunggu,” ungkap Rekso kepada wartawan, Rabu (4/11/2026).
Kondisi kehidupannya semakin berat setelah sang istri meninggal dunia tujuh tahun lalu. Kini, pria berusia 61 tahun tersebut tinggal bersama anaknya di sebuah rumah kontrakan.
Persoalan ekonomi juga membuat Rokso kesulitan membayar iuran BPJS Kesehatan secara mandiri. Dengan penghasilan yang tidak menentu, iuran bulanan sebesar Rp 35 ribu pun dirasakan memberatkan.
“Sekarang saya tidak kuat membayar BPJS. Bayarnya Rp 35 ribu setiap bulan. Kalau bisa, saya berharap mendapatkan bantuan dari pemerintah,” tuturnya.
Rekso berharap pemerintah melalui instansi terkait tidak hanya mengandalkan data administrasi, tetapi juga turun langsung memastikan kondisi masyarakat di lapangan.
Menurutnya, pendataan kesejahteraan sosial seharusnya dilakukan secara cermat agar warga yang benar-benar membutuhkan tidak justru terlewat dari perhatian pemerintah.
“Saya berharap bisa mendapatkan bantuan. Bagaimana caranya supaya saya bisa dibantu, karena kondisi saya memang seperti ini,” harapnya.
(Daeng)