BERITABERSATU.COM, Pemalang – Pemberian bantuan sosial kepada keluarga siswa kelas 2 SDN 1 Kebondalem, Kabupaten Pemalang, berinisial MHAQ (7), yang meninggal dunia diduga akibat perundungan oleh kakak kelasnya, menuai sorotan.
Sorotan tersebut bukan terkait nominal santunan sebesar Rp3 juta, melainkan kalimat yang terpampang pada papan saat penyerahan bantuan kepada keluarga korban.
Dalam foto yang beredar di media sosial, terlihat tulisan “BANTUAN SOSIAL – BERUPA SANTUNAN KEMATIAN BAGI KELUARGA PENDUDUK MISKIN YANG MENINGGAL DUNIA – Rp3.000.000.”
Tulisan tersebut kemudian dikritisi Tokoh Masyarakat sekaligus Pemerhati Budaya, K.R.T. Heppy Nugrahadiprojo. Ia menilai penggunaan kalimat tersebut kurang sensitif, terlebih bantuan diberikan kepada keluarga yang tengah berduka dalam kasus yang menjadi perhatian publik.
“Jika ini foto asli tanpa diedit, saya sangat menyayangkan foto yang beredar di media sosial terkait kunjungan Plt Bupati Pemalang kepada keluarga korban perundungan SDN 01 Kebondalem,” ungkap Heppy kepada beritabersatu.com, Jumat (2/10/2026)
Menurutnya, persoalan bukan pada pemberian bantuan, melainkan cara pesan itu ditampilkan di hadapan keluarga korban.
“Dalam foto itu diserahkan bantuan sosial uang senilai Rp3 juta, disertai tulisan di papan stereofoam. Menurut saya redaksi tulisannya kurang elok, seakan merendahkan keluarga korban,” katanya.
Heppy menyoroti secara khusus frasa “bagi keluarga penduduk miskin yang meninggal dunia.”
“Coba cermati kalimatnya. Itu menyantuni sekaligus menghina atau merendahkan. Seakan tidak memahami perasaan keluarga korban perundungan,” ujarnya.
Ia menilai, dalam situasi seperti ini, pemerintah semestinya menggunakan bahasa yang lebih manusiawi dan menghormati martabat keluarga korban.
“Seharusnya cukup tertulis, ‘Bantuan untuk keluarga (nama korban)’. Sederhana, tetapi jauh lebih menghargai keluarga yang sedang berduka,” tegasnya.
Heppy juga mengingatkan bahwa kasus dugaan perundungan tersebut telah menjadi perhatian luas. Karena itu, setiap tindakan maupun simbol yang muncul dalam penanganan kasus tersebut akan mudah menjadi sorotan publik.
“Kasus perundungan ini sudah menjadi perbincangan yang ramai, bukan hanya oleh warga Pemalang, tapi menjadi isu nasional. Kegiatan apa pun yang terkait dengan isu ini pasti akan menjadi sorotan masyarakat,” tuturnya.
Ia bahkan menilai pemilihan kata dalam sebuah kegiatan publik dapat mencerminkan bagaimana sebuah pesan diproduksi dan disampaikan.
“Kalimat itu cerminan karakter si pembuat kalimat. Jadi sekiranya yang tertulis kata-kata yang merendahkan, maka karakter si penulisnya memang suka merendahkan, sadar atau tidak sadar dalam pemilihan kata-katanya. Itulah cerminan karakternya,” tandasnya.
(Daeng)