BANJARNEGARA, BERITABERSATU – Dewan Pimpinan Daerah Himpunan Peternak Kambing Seni Indonesia (HPKSI) Banjarnegara, menggelar Kontes Lokal Kambing Peranakan Etawa (PE) Kaligesing di Lapangan Desa Plumbungan, Kecamatan Pagentan, Kabupaten Banjarnegara, Minggu (10/5/2025).
Ketua DPD HPKSI Banjarnegara, Taufik, mengatakan kegiatan tersebut merupakan agenda rutin organisasi yang dilaksanakan dua kali dalam setahun. Pada pelaksanaan kali ini, kegiatan digelar atas permintaan Pengurus Anak Cabang (PAC).
“Kontes ini acara rutin. Dalam satu tahun biasanya dilaksanakan dua kali. Kebetulan kali ini PAC Pagentan yang meminta kegiatan dilaksanakan di sini,” ujar Taufik.
Meski berstatus kontes lokal, peserta yang mengikuti kegiatan tersebut tidak hanya berasal dari Kabupaten Banjarnegara. Sejumlah peternak dari daerah lain juga turut ambil bagian dalam ajang tersebut.
“Awalnya memang event lokal untuk peternak sekitar Banjarnegara. Namun karena sifatnya terbuka, ternyata peserta juga datang dari Kebumen, Wonosobo, Tegal, Batang, Yogyakarta hingga Ciamis Jawa Barat,” katanya.
Taufik menyebut jumlah peserta mencapai ratusan orang dengan total kambing yang dilombakan sebanyak 200 ekor dari berbagai kategori. Kategori yang paling ramai diikuti yakni kelas D jantan.
Dalam kontes tersebut, panitia membagi perlombaan ke dalam lima kategori, yakni A, B, C, D, dan E. Masing-masing kategori dipisahkan untuk kambing jantan dan betina sehingga total terdapat 10 kelas penilaian.
Menurut Taufik, pembagian kategori didasarkan pada kondisi fisik dan ukuran tubuh kambing. Untuk kategori A dan B, penilaian dilakukan berdasarkan kondisi gigi kambing yang sudah “poel” atau tanggal. Sementara kategori C diperuntukkan bagi kambing yang giginya belum poel.
Adapun kategori D dan E menggunakan sistem pengukuran tinggi badan atau “skrut”. Pada kategori tersebut, tinggi badan kambing menjadi indikator utama dan tidak dipengaruhi faktor usia.
“Kalau kelas D dan E itu diskrut atau diukur tinggi badannya sesuai ukuran yang sudah ditentukan,” jelasnya.
Sebelum masuk ke panggung penilaian utama, seluruh kambing terlebih dahulu menjalani proses seleksi awal oleh tim juri. Kambing yang lolos seleksi kemudian tampil di atas panggung untuk dinilai lebih lanjut.
Panitia menetapkan juara 1, juara 2, dan juara 3 pada masing-masing kategori. Selain itu, peserta lain yang masuk nominasi harapan juga memperoleh penghargaan berupa trofi dan sertifikat.
“Semua yang masuk 10 besar mendapatkan trofi dan sertifikat. Namun uang pembinaan hanya diberikan untuk juara 1 dan 2,” kata Taufik.
Ia menambahkan, nilai ekonomi kambing kontes cukup tinggi. Beberapa kambing peserta disebut memiliki harga jual hingga lebih dari Rp 100 juta per ekor.
Taufik juga menceritakan pelaksanaan kontes kambing tingkat nasional pada 2024 silam yang digelar di Kecamatan Punggelan, Kabupaten Banjarnegara. Dalam ajang tersebut, seekor kambing juara asal Jawa Timur dikabarkan terjual dengan harga Rp 1 miliar.
(Arief Ferdianto)