Harga Kentang Anjlok, Petani Dieng Banjarnegara Terjepit Biaya Produksi

by Syamsuddin
0 comments

BANJARNEGARA, BERITABERSATU – Senyum masam terpancar dari wajah para petani di Dataran Tinggi Dieng, khususnya di Desa Bakal, Kecamatan Batur, Banjarnegara. Alih-alih menikmati hasil panen, mereka kini harus memutar otak akibat anjloknya harga kentang di pasaran yang berbarengan dengan melambungnya biaya produksi.

Matkhurodin, seorang petani sekaligus tokoh masyarakat di Desa Bakal, menuturkan bahwa harga kentang saat ini sedang berada di titik nadir. Rata-rata kentang hanya dihargai Rp 9.000 per kilogram. Untuk kualitas terbaik (mutu AB), harga maksimal hanya menyentuh angka Rp10.000.

“Kalau harga normal sebenarnya tidak menentu, tapi dulu pernah sampai Rp18.000 hingga Rp19.000 per kilogram. Dengan harga di bawah sepuluh ribu seperti sekarang, jujur saja modalnya tidak ‘nutup’. Petani rugi,” ungkap Matkhurodin yang juga menjabat sebagai Kepala Desa Bakal, Selasa (20/1/2026).

Penurunan harga ini disinyalir terjadi akibat adanya panen raya yang bersamaan di beberapa sentra penghasil kentang lainnya, seperti Jawa Timur dan Jawa Barat.

Melimpahnya stok di pasar membuat posisi tawar petani Dieng melemah.
Selain masalah harga, tantangan alam juga menjadi kendala serius.

Pada musim penghujan, produktivitas lahan menurun drastis. Jika di musim kemarau petani bisa memanen hingga 15 ton per hektar, saat curah hujan tinggi seperti sekarang, hasil panen maksimal hanya berkisar 7 hingga 8 ton.

“Tanam kentang itu modalnya besar. Untuk satu hektar bisa menghabiskan sekitar Rp.80 juta. Kalau hasil panen cuma 7 ton dikali harga 9 ribu, petani dapat apa? Belum lagi mencari tenaga kerja sekarang susah dan mahal,” tambahnya.

Masalah kian pelik ketika para petani di Kecamatan Batur mengeluhkan hilangnya akses terhadap pupuk bersubsidi dalam 3-4 tahun terakhir.

Pemerintah kabarnya mengkategorikan tanaman hortikultura seperti kentang bukan sebagai makanan pokok, sehingga jatah subsidi dicabut.

Kondisi ini memaksa petani beralih ke pupuk nonsubsidi atau pupuk organik (CM) dari luar daerah dengan harga yang terus merangkak naik dari Rp20.000 kini menjadi Rp30.000 per kantong.

“Kami merasa ada ketidakadilan. Kenapa sayuran seperti kentang, wortel, dan cabai dianggap tidak penting, Padahal ini sumber gizi masyarakat. Kami sangat berharap Pemerintah Daerah dan Dinas Pertanian peduli. Setidaknya bagilah pupuk subsidi secara adil agar tidak ada kecemburuan antarwilayah,” Lanjut Madkhurodin.

Untuk menyiasati kerugian yang terus berulang, Matkhurodin mendorong kelompok tani di desanya untuk mulai mandiri dalam pembibitan. Menurutnya, kualitas bibit menyumbang 60% keberhasilan panen.

Ia menyarankan petani menggunakan bibit kualitas G2 atau G3 agar produktivitas tetap terjaga meski di musim hujan.

“Jangan asal tanam bibit lokal yang sudah turun temurun kualitasnya. Kelihatannya tumbuh bagus, tapi buahnya tidak ada. Itu yang sering bikin petani menengah ke bawah semakin terpuruk.” Lanjutnya.

Meski didera rugi dan kesulitan pupuk, semangat petani Dieng nampaknya belum padam. Bagi mereka, bertani adalah urat nadi.

Harapan kini digantungkan pada kebijakan pemerintah yang lebih berpihak pada petani sayur, agar kentang Dieng ini tetap bisa menghidupi keluarga mereka. (ief/hrr).

You may also like