BERITABERSATU.COM, Pemalang – Dugaan bullying di SD Negeri 1 Kebondalem, Kabupaten Pemalang, ternyata bukan hanya soal kasus yang menimpa MHAQ (7), siswa kelas 2 yang meninggal dunia. Sejumlah wali murid justru mengungkap dugaan perundungan yang disebut telah terjadi bertahun-tahun di sekolah tersebut.
Kesaksian demi kesaksian mencuat saat wali murid dan masyarakat mendatangi SDN 1 Kebondalem, Senin (5/10/2026). Mereka datang membawa keresahan sekaligus menuntut kejelasan atas dugaan bullying yang disebut berujung pada meninggalnya MHAQ.
Kemarahan massa sempat memanas setelah sejumlah warga tertahan di pintu masuk sekolah. Perwakilan mereka kemudian mendapat kesempatan menyampaikan aspirasi dalam audiensi bersama Plt Bupati Pemalang, Nurkholes.
Namun, forum tersebut tak hanya menjadi tempat mempertanyakan kasus MHAQ. Sejumlah wali murid justru membuka kembali cerita lama yang mereka klaim pernah dialami anak-anak mereka saat bersekolah di SDN 1 Kebondalem.
Salah satunya Mustoha (50). Ia mengaku kembali teringat pengalaman pahit anaknya setelah mengetahui kasus MHAQ.
Anaknya, kata Mustoha, kini telah lulus dan berkuliah. Namun selama bersekolah di SDN 1 Kebondalem, dia mengaku anaknya mengalami dugaan bullying sejak kelas 1 hingga kelas 6.
“Sekolah di sini dulunya sekolah favorit, Pak. Anak saya hanya modal prestasi. Ternyata dari kelas 1 sampai kelas 6 dibully terus,” kata Mustoha.
Mustoha menyebut dugaan perundungan yang dialami anaknya tidak hanya berupa verbal, tetapi juga tindakan fisik.
Ia mengaku anaknya pernah ditempeleng, ditendang hingga dicakar. Bahkan, anaknya disebut mendapat berbagai panggilan bernada penghinaan.
“Buku catatannya ditulisi hewan-hewan. Anak saya ditempeleng, ditendang, dicakar. Termasuk dikatain anak monyet, anak anjing, anak kerbau, anak badak,” ujarnya.
Kesaksian tersebut membuat Mustoha mempertanyakan penanganan persoalan bullying di sekolah tersebut. Ia menilai pengalaman yang pernah dialami anaknya semestinya menjadi bahan evaluasi agar kejadian serupa tidak berulang.
“Apakah dari dulu sampai sekarang tidak ada evaluasi mendasar? Banyak kejadian dilupakan begitu saja,” tegasnya.
Kesaksian lain disampaikan Atika (33), warga Kaligelang, yang anaknya kini duduk di kelas 3 SDN 1 Kebondalem.
Atika mengaku anaknya juga pernah mengalami dugaan bullying ketika masih duduk di kelas 1. Bahkan, setelah kejadian tersebut, anaknya sempat mengalami gangguan kesehatan hingga demam.
Atika kemudian mencari tahu apa yang dialami anaknya dan mendatangi pihak sekolah untuk membicarakan persoalan tersebut.
“Kebetulan wali kelasnya bisa diajak ngobrol, diskusi bersama. Akhirnya dari pihak anak yang melakukan itu minta maaf,” ungkapnya.
Bagi Atika, kasus yang kini menimpa MHAQ menjadi titik yang jauh lebih serius. Sebab, persoalan tersebut disebut telah menyangkut keselamatan dan nyawa seorang anak.
“Kalau ini kan sudah keterlaluan, sudah menyangkut nyawa anak. Jadi harus ditindaklanjuti. Kepala sekolah saya berharap keluar dan pelaku juga harus dikeluarkan,” tegas Atika.
Deretan kesaksian itu kini menjadi tuntutan baru dari para wali murid. Mereka meminta dugaan bullying di SDN 1 Kebondalem tidak hanya diselesaikan sebagai persoalan internal sekolah.
Mereka mendesak adanya evaluasi menyeluruh terhadap penanganan bullying, penelusuran terhadap kejadian-kejadian sebelumnya, serta tindakan tegas apabila nantinya ditemukan pelanggaran atau pihak yang terbukti bertanggung jawab.
(Daeng)