​Dihujat Saat Suarakan BBM Subsidi, Wakil Ketua DPRD Luwu Utara Pilih Balas dengan Nurani

by Syamsuddin
0 comments

BERITABERSATU.COM, LUWU UTARA – Wakil Ketua I DPRD Kabupaten Luwu Utara, Karemuddin, angkat bicara setelah dirinya mendapat hinaan dengan sebutan “b*bi” saat menyuarakan persoalan penyaluran BBM bersubsidi di Luwu Utara.

Karemuddin menegaskan, hinaan tersebut tidak membuat dirinya marah maupun menghentikan langkahnya dalam memperjuangkan kepentingan masyarakat.

“Saya tidak marah ketika disebut ‘b*bi’, hanya karena saya menyuarakan hak subsidi rakyat,” kata Karemuddin dalam pernyataannya. Kamis (10/09/2026).

Menurutnya, perbedaan pandangan dalam menyikapi persoalan BBM subsidi merupakan hal yang wajar. Namun, perbedaan tersebut semestinya disampaikan melalui argumentasi dan dialog, bukan dengan penghinaan.

“Mungkin kita berbeda cara melihat persoalan. Tetapi bagi saya, memperjuangkan hak rakyat bukan alasan untuk saling menghina,” ujarnya.

Karemuddin mengatakan, sorotannya terhadap persoalan BBM subsidi bukan untuk kepentingan pribadi. Sebagai wakil rakyat, ia merasa memiliki tanggung jawab untuk memastikan subsidi pemerintah benar-benar dinikmati masyarakat yang berhak.

“Saya tidak sedang memperjuangkan kepentingan pribadi. Saya hanya ingin subsidi yang memang diperuntukkan bagi rakyat, benar-benar sampai kepada rakyat yang membutuhkan,” tegasnya.

Ia juga meminta pihak yang tidak sepakat dengan sikapnya untuk menyampaikan bantahan berdasarkan argumentasi dan data, bukan melalui kata-kata kasar.

“Kalau suara itu dianggap salah, silakan dibantah dengan argumentasi, bukan dengan makian,” katanya.

Karemuddin menegaskan dirinya tidak akan membalas hinaan tersebut dengan kebencian. Ia memilih tetap menjalankan tugas sebagai wakil rakyat dan menyuarakan kepentingan masyarakat.

“Saya tidak akan membalas kebencian dengan kebencian. Itu hak mereka. Saya akan terus menyuarakan hak rakyat selama saya jadi wakil rakyat,” ungkapnya.

Ia mengingatkan bahwa keberadaannya sebagai anggota DPRD tidak terlepas dari kepercayaan masyarakat. Karena itu, menurutnya, suara rakyat harus tetap diperjuangkan, termasuk dalam persoalan subsidi BBM.

“Saya dihidupi dan digaji dari pajak rakyat,” ujarnya.

Bagi Karemuddin, polemik tersebut pada akhirnya bukan sekadar persoalan dirinya dihina atau tidak, melainkan menyangkut keberanian untuk memperjuangkan kepentingan masyarakat.

“Sebab pada akhirnya, kita semua akan kembali kepada satu tempat yang sama: nurani,” katanya.

Ia pun menyampaikan bahwa hari ini mungkin dirinya yang mendapat hinaan karena bersuara, tetapi suatu saat masyarakat juga membutuhkan wakil yang berani menyampaikan aspirasi mereka.

“Hari ini mungkin saya yang dihina karena bersuara. Besok mungkin kita semua yang membutuhkan suara itu,” pungkasnya. (Kaisar)

You may also like