Asbullah, Kakek 71 Tahun Yang Tak Pernah Absen Ikut Tajemtra Sejak 1977

by Syamsuddin
0 comments

BERITABERSATU.COM, JEMBER — Gerak Jalan Tanggul-Jember Tradisional (Tajemtra) kembali digelar di Kabupaten Jember, Jawa Timur, Sabtu (5/9/2026). Event olahraga dan tradisi masyarakat Jember tersebut berlangsung meriah dengan melibatkan puluhan ribu peserta dari berbagai kalangan.

Peserta Tajemtra 2026 datang dari beragam latar belakang. Mulai dari jajaran pemerintahan, pegawai swasta, organisasi masyarakat, pelajar, hingga masyarakat umum turut memadati jalur gerak jalan.
Namun, di tengah puluhan ribu peserta yang mengikuti kegiatan tersebut, terdapat sosok yang memiliki cerita panjang dan istimewa.

Ia adalah Asbullah, warga Kecamatan Kalisat yang kini telah berusia 71 tahun.Usianya yang sudah tidak muda lagi ternyata tidak menyurutkan semangat Asbullah untuk terus mengikuti Tajemtra.

Bagi Asbullah, mengikuti Tajemtra bukan sekadar berjalan kaki menempuh jarak 30 kilometer dari Alun-alun Tanggul hingga Alun-alun Kota Jember. Kegiatan tersebut telah menjadi bagian dari perjalanan hidupnya sejak masih muda.

Asbullah tercatat telah mengikuti event gerak jalan tersebut sejak era awal penyelenggaraannya, sekitar tahun 1977. Selama puluhan tahun, ia terus menjaga tradisi tersebut dan berusaha tidak melewatkan Tajemtra.

Hanya satu periode yang membuatnya tidak bisa mengikuti kegiatan tersebut, yakni ketika pandemi Covid-19 melanda dan berbagai kegiatan masyarakat harus dihentikan atau dibatasi.

Selain Tajemtra, Asbullah juga pernah mengikuti Gerak Jalan Kencong-Jember atau Kejem pada sekitar akhir 1970-an hingga 1980-an. Event tersebut memiliki jarak tempuh sekitar 45 kilometer.

“Mulai Kejem tahun 1978. Tidak pernah berhenti, hanya waktu pandemi Covid,” kata Asbullah.

Bagi pria yang pernah bekerja sebagai pegawai UPTD Pendidikan tersebut, usia bukan alasan untuk berhenti beraktivitas.

Menurut Asbullah, kunci utama mengikuti gerak jalan jarak jauh adalah niat dan semangat. Selama seseorang memiliki kemauan, menjaga kondisi tubuh, serta mempersiapkan diri dengan baik, jarak puluhan kilometer bukan sesuatu yang mustahil untuk ditempuh.

“Memang dari niatnya. Kalau sudah punya niat dan semangat, insyaallah bisa sampai finis,” ujarnya.

Keyakinan tersebut tidak hanya menjadi ucapan. Selama mengikuti Tajemtra, Asbullah berulang kali mampu menyelesaikan perjalanan hingga garis finis.

Ia mengaku setiap mengikuti Tajemtra biasanya memperoleh piagam sebagai bentuk apresiasi atas keikutsertaannya.

Bahkan, pengalaman mengikuti Tajemtra pernah membawa keberuntungan tersendiri. Pada penyelenggaraan Tajemtra tahun 2017, Asbullah mendapatkan hadiah undian berupa sebuah sepeda motor.

Hadiah tersebut menjadi salah satu kenangan yang tidak terlupakan dalam perjalanan panjangnya mengikuti Tajemtra.

Semangat Asbullah mengikuti gerak jalan jarak jauh ternyata tidak muncul begitu saja.Ketika masih muda, ia merupakan seorang atlet lari maraton. Aktivitas olahraga tersebut membuatnya terbiasa dengan latihan fisik dan perjalanan jarak jauh.

Kebiasaan berolahraga itu pula yang hingga kini terus ia pertahankan meskipun usianya telah memasuki kepala tujuh.

Asbullah mengatakan dirinya berusaha menjaga kesehatan dengan berolahraga secara teratur. Selain itu, ia juga memperhatikan pola makan agar kondisi tubuh tetap prima.Kebiasaan tersebut menjadi salah satu modal baginya untuk tetap mampu mengikuti Tajemtra hingga usia 71 tahun.

“Saya tetap menjaga kesehatan dengan olahraga teratur dan pola makan yang sehat,” katanya.

Dalam perjalanan pekerjaannya, Asbullah juga pernah mengikuti kegiatan Tajemtra sebagai bagian dari rombongan PGRI.Ia merupakan pegawai UPTD Pendidikan dan memasuki masa pensiun pada 2018.

Meski telah pensiun, aktivitas dan semangatnya untuk berolahraga tidak ikut berhenti.Justru, Tajemtra tetap menjadi salah satu kegiatan yang terus ia ikuti.

Puluhan tahun berlalu, generasi peserta terus berganti. Mereka yang dulu mengikuti Tajemtra bersama Asbullah ketika masih muda kini mungkin telah berhenti mengikuti kegiatan tersebut.

Sementara Asbullah masih berusaha berdiri di antara ribuan peserta lainnya, menempuh rute yang sama dengan semangat yang relatif tidak berubah.

Baginya, Tajemtra merupakan kesempatan untuk berolahraga sekaligus bertemu dan berbaur dengan masyarakat.

Tajemtra tahun ini kembali menjadi salah satu kegiatan yang menyedot perhatian masyarakat Jember.

Selain diikuti masyarakat dari berbagai usia, event tersebut juga melibatkan berbagai unsur, termasuk pemerintahan, swasta, organisasi, serta masyarakat umum.

Dalam kesempatan tersebut, Gus Fawait mengungkapkan bahwa dirinya tetap memilih hadir untuk bersama masyarakat meskipun dalam kondisi kesehatan yang kurang baik.

“Tadi saya masih diinfus. Saya bilang, saya tidak mungkin tidak membersamai masyarakat Jember,” ujar Gus Fawait.

Menurutnya, Tajemtra tidak hanya berbicara mengenai olahraga dan kemampuan peserta menempuh jarak jauh. Lebih dari itu, Tajemtra memiliki filosofi gotong royong yang menjadi salah satu nilai penting dalam kehidupan masyarakat.

“Tajemtra ini filosofinya gotong royong,” kata Gus Fawait.

Tajemtra 2026 juga mencatat jumlah peserta yang besar. Tahun ini tercatat lebih dari 2.500 peserta mengikuti kegiatan tersebut dalam kategori yang diselenggarakan. (Tahrir)

You may also like