BERITABERSATU.COM,Pemalang – Kontestasi Pemilihan Kepala Desa (Pilkades) Pepedan, Kecamatan Moga, Kabupaten Pemalang, mulai memanas. Anak muda berusia 28 tahun, Imam Dihlizi, resmi mendaftarkan diri sebagai bakal calon kepala desa, Kamis (3/9/2026).
Kedatangan Imam disambut hangat oleh panitia pemilihan kepala desa. Pendaftaran tersebut sekaligus membuka ruang bagi masyarakat Pepedan untuk menilai gagasan, program, serta visi-misi yang ditawarkan para bakal calon untuk memimpin desa ke depan.
Imam datang dengan membawa semangat perubahan yang dirangkum dalam visi “MEMBARA”, akronim dari Maju, Berdaya, Sejahtera dan Berbudaya.
Visi tersebut dituangkan dalam gagasan pemerintahan yang cepat tanggap dengan mengedepankan kekuatan gotong royong masyarakat.
“Saya ingin mewujudkan Desa Pepedan yang MEMBARA (Maju, Berdaya, Sejahtera dan Berbudaya) melalui pemerintahan yang cepat tanggap bersama gotong royong masyarakat,” ujar Imam dalam keterangan persnya, Jumat (4/9/2026).
Imam juga menonjolkan latar belakang keluarga yang memiliki keterkaitan dengan sejarah pemerintahan dan tokoh masyarakat Pepedan.
Ia merupakan putra Darsono dan Nur Asih, yang memiliki garis keluarga hingga Kyai Muhammad Toha, Kyai Qomaruddin dan KH Abdurrahman, yang disebut pernah menjadi Simbah Lurah Perlot Pepedan pada 1925-1965.
Sementara dari garis ayah, Imam menyebut memiliki garis keluarga hingga Wirowitomo, Widiakromo dan Wongsodibyo, yang disebut memiliki keterkaitan dengan Wedana Lurah Ndalem Kasunanan Notosuman Kartasura.
Namun, Imam tak ingin pencalonannya semata bertumpu pada latar belakang keluarga. Ia menawarkan sejumlah program yang menyasar tata kelola pemerintahan, ekonomi, infrastruktur, sumber daya manusia hingga pelestarian budaya.
Salah satu fokus utamanya, kata dia adalah membenahi tata kelola pemerintahan desa agar lebih tertib, bersih dan adaptif terhadap perkembangan teknologi.
Ia menawarkan pelayanan publik yang cepat tanggap serta bebas dari pungutan liar, sekaligus membuka akses pelayanan melalui platform digital.
“Pemerintahan desa harus hadir dengan pelayanan yang cepat, transparan dan mudah diakses masyarakat. Keterbukaan anggaran, integritas pelayanan publik dan pengawasan masyarakat harus menjadi bagian penting dalam tata kelola pemerintahan,” kata dia.
Tak hanya dipemerintahan, ia juga menjadikan sektor ekonomi sebagai salah satu prioritas. Ia menggagas “gebrakan ekonomi per RT” dengan mengoptimalkan potensi lokal serta memperkuat peran BUMDes dan Kopdes.
Aset desa juga dinilai harus dikelola secara maksimal agar tidak hanya menjadi kekayaan administratif, tetapi mampu memberikan manfaat ekonomi bagi warga. Target akhirnya adalah mendorong peningkatan Pendapatan Asli Desa (PADes) sekaligus membuka lebih banyak peluang ekonomi bagi masyarakat.
Sementara dalam bidang pembangunan, ia membawa gagasan pemerataan infrastruktur hingga tingkat RT/RW. Menurutnya, pembangunan desa tidak boleh hanya terpusat di wilayah tertentu. Kebutuhan vital seperti air bersih, listrik dan jalan penghubung desa juga menjadi perhatian.
Selain infrastruktur fisik, ia juga menawarkan penguatan akses sosial, kesehatan serta fasilitas publik yang mudah dan aman digunakan seluruh lapisan masyarakat.
Tak sampai disitu, Ia juga memasukkan peningkatan kualitas sumber daya manusia sebagai salah satu agenda utama. Program yang ditawarkan mencakup akses pendidikan formal maupun nonformal, kesempatan kerja, fasilitas keterampilan kerja serta pemberdayaan pemuda dan pemudi.
“Pemuda-pemudi harus diberi ruang menentukan masa depan desa. Mereka bukan sekadar penonton, tetapi harus menjadi motor perubahan Desa Pepedan,” ungkapnya.
Tak ingin modernisasi membuat budaya lokal tergerus, Imam juga menempatkan pelestarian budaya dan gotong royong sebagai bagian penting dalam membangun Desa Pepedan.
Ia ingin tradisi lokal dan berbagai acara rakyat kembali dihidupkan, sekaligus dikembangkan menjadi potensi yang mampu menggerakkan ekonomi desa. Generasi muda pun didorong untuk tidak sekadar menjadi penonton, tetapi tampil sebagai pelestari sekaligus penggerak kebudayaan lokal.
“Budaya dan kegiatan rakyat jangan sekadar seremoni. Tradisi lokal harus hidup sebagai ruang kebersamaan, daya tarik, sekaligus potensi ekonomi Desa Pepedan. Generasi muda harus menjadi pelestari kesenian dan budaya kita,” tegas Imam.
Menurutnya, kemajuan desa tidak harus mengorbankan identitas dan sejarah yang telah diwariskan. Justru, kekayaan budaya dan semangat gotong royong dinilai dapat menjadi kekuatan untuk membangun Pepedan yang maju tanpa kehilangan jati dirinya.(*)