Beritabersatu.com, Blitar – Berobat ke rumah sakit sering menjadi pengalaman yang menakutkan bagi anak. Tangisan, kecemasan hingga ketakutan menghadapi pemeriksaan medis menjadi tantangan tersendiri bagi tenaga kesehatan.
Kondisi tersebut mendorong RSUD “Ngudi Waluyo” Wlingi menghadirkan inovasi pelayanan anak MANJA CERIA, singkatan dari Bermain, Bekerjasama, Bercerita, Edukasi, dan Bergembira.
Inovasi yang mulai diterapkan sejak Juni 2022 itu dirancang untuk membuat anak merasa lebih aman dan nyaman selama menjalani perawatan. Anak tidak hanya mendapatkan tindakan medis, tetapi juga pendampingan psikologis melalui aktivitas yang menyenangkan.
MANJA CERIA berawal dari evaluasi pelayanan di Ruang Arimbi. Hasil mini riset terhadap 68 pasien anak pada Februari-Maret 2022 menunjukkan 43 anak atau 61,8 persen mengalami stres emosional selama menjalani perawatan.
“Anak yang dirawat bukan hanya membutuhkan obat dan tindakan medis, tetapi juga membutuhkan rasa aman, nyaman, perhatian, serta suasana yang menyenangkan agar proses penyembuhan berjalan lebih optimal,” ungkap salah satu tim pengembang MANJA CERIA.
Melalui program tersebut, anak diajak bermain sesuai usia dan kondisi kesehatannya. Mereka juga mendapatkan terapi bermain, mendengarkan cerita, serta edukasi kesehatan dengan metode yang lebih mudah dipahami.
Orang tua pun dilibatkan secara aktif. Keluarga menjadi bagian dari proses penyembuhan melalui pendampingan emosional, edukasi kesehatan, maupun aktivitas bersama tenaga kesehatan.
Pelaksanaan program melibatkan dokter spesialis anak, perawat dan manajemen rumah sakit. Perawat menjadi fasilitator, mulai dari mengukur tingkat kecemasan pasien, menyusun kegiatan, memberikan terapi bermain hingga mendampingi keluarga.
Pendekatan tersebut diharapkan membuat anak lebih kooperatif saat menjalani pemeriksaan maupun tindakan medis. Suasana ruang perawatan yang sebelumnya identik dengan rasa takut perlahan diubah menjadi lingkungan yang lebih ramah bagi anak.
MANJA CERIA yang awalnya diterapkan bagi pasien rawat inap anak di Ruang Arimbi kini juga dikembangkan untuk pasien one day care, termasuk pasien talasemia yang membutuhkan pelayanan rutin.
Direktur RSUD “Ngudi Waluyo” Wlingi menyebut inovasi tersebut merupakan bagian dari komitmen rumah sakit untuk meningkatkan mutu pelayanan kesehatan anak.
Pelayanan, kata dia, tidak hanya berorientasi pada penyembuhan penyakit, tetapi juga memperhatikan kebutuhan fisik, psikologis, emosional dan sosial anak.
Rumah sakit menargetkan tingkat kecemasan anak selama hospitalisasi dapat ditekan hingga kurang dari 30 persen. Selain itu, angka pasien pulang atas permintaan sendiri ditargetkan di bawah 5 persen dan tingkat kepuasan pasien mencapai lebih dari 90 persen.
Ke depan, MANJA CERIA akan terus dikembangkan melalui evaluasi berkala, peningkatan kompetensi tenaga kesehatan, penyediaan alat permainan edukatif, pengembangan media edukasi serta penyempurnaan sarana pelayanan ramah anak.
Melalui inovasi ini, RSUD “Ngudi Waluyo” Wlingi ingin menunjukkan bahwa pelayanan kesehatan anak bukan sekadar memberikan obat dan tindakan medis. Lebih dari itu, rumah sakit juga berupaya menghadirkan rasa aman, keberanian dan kegembiraan bagi anak selama menjalani proses penyembuhan.(zan)