BERITABERSATU.COM, JAKARTA – Di sebuah ruangan sederhana di Sekretariat Spirit Of Aqsa, Jakarta, Minggu malam (24/5/2026), suasana hening seketika pecah. Isak tangis seorang perempuan memecah kebisingan ibu kota. Ia bukan perempuan biasa, ia adalah Hj. Ratnwati Arif, Bupati Sinjai.
Di hadapannya, duduk seorang pria muda dengan tatapan mata yang menyimpan ribuan cerita tentang keberanian dan penderitaan. Ia adalah As’ad Aras Muhammad (33), relawan kemanusiaan asal Kabupaten Sinjai yang baru saja lolos dari cengkeraman maut setelah ditangkap oleh militer zionis Israel saat berlayar menuju Gaza.
Sejak Minggu sore, Ratnwati sudah menanti. Baginya, kepulangan As’ad bukan sekadar kabar gembira, melainkan bukti nyata bahwa semangat pembelaan terhadap kemanusiaan masih membara di dada putra daerahnya. Ketika akhirnya As’ad muncul, Ratnwati tak mampu menahan haru.
“Sejak sore saya menunggunya. Malam ini, saat bertemu langsung, rasa syukur saya meluap. Alhamdulillah, Allah menyelamatkan dan menyampaikan dia dengan selamat kembali ke tanah air,” ungkap Ratnwati dengan suara bergetar.
Bupati perempuan pertama di Sinjai ini hadir didampingi Kepala Dinas Pendidikan Sinjai, Irwan Suaib. Pertemuan itu pun terasa sangat intim, disaksikan oleh kedua orang tua dan istri As’ad yang tak henti-hentinya memanjatkan syukur.
Dalam obrolan yang hangat namun mendalam, Ratnwati mengapresiasi pengorbanan As’ad. Baginya, keberanian As’ad untuk meninggalkan kenyamanan hidup demi membela saudara seiman di Palestina adalah teladan langka di zaman ini.
Namun, di luar dugaan, As’ad justru merendah. Pria yang telah merasakan dinginnya ruang interogasi dan ancaman senjata zionis itu hanya tersenyum tipis.
“Beliau sudah merasakan suka duka, disiksa dan diculik, tapi saat saya tanya, beliau justru mengatakan bahwa penderitaannya itu ‘belum ada apa-apanya’,” ujar Ratnwati menirukan ucapan As’ad.
Ratnwati tertegun. Bagi sang Bupati, kekuatan iman dan tauhid yang terpancar dari sosok As’ad adalah pelajaran berharga tentang hakikat pengorbanan. “Ini harus menjadi contoh. Kekuatan iman yang membuat seseorang merasa pengorbanan besarnya sebagai hal kecil demi memuliakan Allah,” tambahnya.
As’ad sendiri tidak banyak bercerita tentang trauma. Sejak berangkat dari Jakarta pada 28 April 2026, menempuh perjalanan panjang hingga akhirnya berlayar dari Istanbul, Turki menuju Gaza pada 15 Mei, ia sadar risiko yang menantinya. Kapal yang ia tumpangi dibajak tentara Israel di tengah malam pada Senin (18/5/2026), namun baginya, itu hanyalah kerikil kecil.
“Penyiksaan dan penculikan yang kami alami belum ada apa-apanya jika dibandingkan dengan penderitaan warga Palestina selama puluhan tahun,” tegas As’ad.
Baginya, kunjungan Bupati Sinjai adalah suntikan energi baru. Ia menegaskan bahwa apa yang dialaminya bukan untuk dipuji, melainkan untuk membakar semangat umat agar tidak melupakan Palestina.
“Penjajahan di atas dunia harus dihapuskan, itu amanat konstitusi kita. Dan sebagai umat Islam, kita punya kewajiban untuk menolong saudara yang terzalimi,” tutur As’ad dengan tegas.
Pertemuan malam itu bukan sekadar seremoni. Ini adalah pesan tentang solidaritas yang melampaui batas geografis. Bupati Ratnwati berkomitmen untuk terus mendorong semangat perjuangan ini di Sinjai. Ia ingin agar kisah As’ad menjadi pengingat bagi seluruh masyarakat bahwa di belahan bumi lain, ada hak-hak kemanusiaan yang sedang diperjuangkan dengan nyawa.
Saat pertemuan berakhir, tak ada lagi air mata kesedihan. Yang tersisa adalah bara semangat yang dititipkan oleh seorang relawan untuk tanah kelahirannya. As’ad telah kembali, namun hatinya mungkin masih tertinggal di pesisir Gaza, menanti hari di mana penjajahan benar-benar sirna. (Ads)