Lompatan ‘RAMAH’ di Bumi Panrita Kitta: Saat Ekonomi Sinjai Menembus Langit Tertinggi dalam Lima Tahun

by redaksi
0 comments

BERITABERSATU.COM, SINJAI – Di bawah langit cerah Kabupaten Sinjai, sebuah narasi baru sedang ditulis. Bukan sekadar tentang angka-angka di atas kertas laporan Badan Pusat Statistik (BPS), melainkan tentang denyut nadi ekonomi yang kini berdetak lebih kencang dari biasanya.

Pada Jumat (27/2/2026), di tengah khidmatnya Rapat Paripurna Hari Jadi Sinjai (HJS) ke-462, sebuah pengumuman penting memecah suasana. Kabupaten Sinjai resmi mencatatkan sejarah baru. Di bawah nakhoda Bupati Hj. Ratnawati Arif dan Wakil Bupati Andi Mahyanto Mazda, yang akrab dengan akronim RAMAH laju pertumbuhan ekonomi Sinjai tahun 2025 melesat hingga 6,05 persen.

Angka ini bukan sekadar statistik rutin. Ia adalah puncak tertinggi dalam kurun waktu lima tahun terakhir, sekaligus sinyal bahwa Sinjai sedang berlari saat yang lain mungkin baru mulai melangkah.

Melihat ke belakang, perjalanan ekonomi di Bumi Panrita Kitta bak rollercoaster. Pada 2021, ekonomi sempat berada di angka 5,23 persen, namun sempat melandai ke 4,87 persen setahun setelahnya. Meski sempat bangkit ke 5,71 persen di 2023, angka tersebut kembali terkoreksi ke 5,17 persen pada 2024.

Namun, memasuki medio 2025, tangan dingin duet Ratnawati-Mahyanto membawa perubahan drastis. Lonjakan ke angka 6,05 persen menempatkan Sinjai sebagai kekuatan ekonomi ke-7 terbesar di Sulawesi Selatan.

“Peningkatan ini menunjukkan bahwa aktivitas ekonomi daerah semakin bergerak positif. Kepercayaan terhadap perekonomian daerah terus menguat,” ujar Bupati Ratnawati dengan nada mantap di hadapan para anggota dewan.

Apa yang membuat pencapaian ini berbeda? Ratnawati menegaskan bahwa ia tidak ingin terjebak dalam euforia statistik. Baginya, pertumbuhan ekonomi yang tinggi tidak akan berarti jika tidak “mengenyangkan” perut rakyat di akar rumput.

Strategi “RAMAH” ke depan sangat jelas: Inklusivitas. Fokus pembangunan kemudian diarahkan pada, Penguatan UMKM, dengan Menjadikan unit usaha kecil sebagai tulang punggung ekonomi lokal. Kemudian Revitalisasi Sektor Primer, yakni dengan Menggenjot produktivitas petani dan nelayan yang merupakan profil mayoritas warga Sinjai. Selanjutnya mendorong Industri Kecil Berkelanjutan, dengan Memastikan hilirisasi produk lokal berjalan untuk menciptakan lapangan kerja baru.

“Angka ini bukan sekadar statistik, tetapi cerminan dari meningkatnya produktivitas dan kesejahteraan warga. Kabupaten Sinjai harus menjadi rumah yang ramah bagi semua,” tegasnya.

Kesuksesan ini diakui Ratnawati bukanlah kerja tunggal di balik meja bupati. Ia menyebutnya sebagai sinergi kolosal antara pemerintah, pelaku usaha, dan masyarakat. Di balik angka 6,05 persen itu, ada keringat petani di sawah, inovasi pedagang di pasar, dan komitmen birokrasi yang mempermudah investasi.

Kini, di usianya yang ke-462, Sinjai tidak hanya merayakan sejarah masa lalu, tetapi juga merayakan masa depan yang cerah. Pertumbuhan ekonomi tahun 2025 adalah fondasi. Tantangan berikutnya adalah bagaimana menjaga momentum ini agar tetap “menggigit” dan konsisten di tahun-tahun mendatang.

Bagi warga Sinjai, 6,05 persen adalah harapan. Bagi Sulsel, Sinjai adalah bukti bahwa kepemimpinan yang fokus pada sektor produktif mampu mengubah arah angin ekonomi. (Ads/AP)

You may also like