BANJARNEGARA, BERITABERSATU – Pemerintah Kabupaten Banjarnegara terus berupaya menekan angka stunting yang masih tergolong tinggi. Tidak ingin lagi terjebak dalam tataran teori dan seremonial, Bupati dr. Amalia Desiana menuntut aksi nyata dari seluruh stakeholder untuk berkolaborasi menurunkan angka prevalensi stunting secara signifikan.
Hal tersebut ditegaskan Bupati saat membuka acara Pra Musyawarah Perencanaan Pembangunan (Musrenbang) Tematik Stunting Kabupaten Banjarnegara tahun 2026, di Aula Lantai 3 Setda Banjarnegara, Senin (9/2/2026).
“Tahun ini saya berharap melalui Pramusrenbang Tematik ini kita benar-benar memilih action nyata. Kita sudah cukup lama berbicara teori, saatnya fokus pada langkah konkret di lapangan,” ujar Bupati.
Kepala Badan Perencanaan Pembangunan, Riset dan Inovasi Daerah (Bapperida) Banjarnegara, Yusuf Agung Prabowo, SH, M.Si, menjelaskan bahwa forum ini bertujuan menyamakan komitmen serta menyusun perencanaan intervensi yang terintegrasi dalam upaya percepatan penurunan stunting. Namun demikian, tantangan yang dihadapi masih cukup besar.
Sementara itu, Kepala Dinas Kesehatan Kabupaten Banjarnegara, dr. Latifa Hesty Purwaningtyas, memaparkan data terbaru stunting di Banjarnegara. Berdasarkan Survei Status Gizi Indonesia (SSGI) 2024, Banjarnegara masih masuk dalam 10 besar kabupaten dengan prevalensi stunting tertinggi di Jawa Tengah, yakni sebesar 20,6 persen.
Data ini menimbulkan ketidaksinkronan dengan catatan lokal yang menyebutkan angka lebih rendah, namun pemerintah daerah memilih mengambil sikap waspada dan fokus pada penanganan riil.
Dalam arahannya, Bupati Amalia menyoroti pentingnya pola asuh dan pola makan yang benar. Ia mencontohkan pengalamannya sendiri dalam mendampingi tumbuh kembang anak dengan memaksimalkan protein hewani seperti ikan dan telur.
“Kuncinya memang banyak di protein. Jangan sampai anaknya makan nasi dengan kuah saja, tapi gizi nutrisinya tidak masuk,” tegasnya.
Secara khusus, Bupati memberikan perhatian serius pada Kecamatan Batur. Meskipun secara ekonomi warga di wilayah tersebut tergolong mampu, angka stunting justru tertinggi. Ini menunjukkan bahwa stunting bukan sekadar masalah kemiskinan, tetapi juga masalah edukasi dan pola asuh.
“Saya pernah ke Desa Sumberrejo, melihat anak kelas 6 SD tingginya sama dengan anak kelas 2 SD. Ini karena pola asuh, lebih sering konsumsi junk food daripada makanan bergizi,” ungkap Bupati Amalia.
Pra Musrenbang ini diakhiri dengan penandatanganan komitmen bersama antara Pemkab, DPRD, pimpinan badan, OPD, Camat, hingga desa. Konvergensi atau “pengeroyokan” program dari hulu ke hilir-mulai dari pendampingan calon pengantin agar tidak menikah dini, hingga pendampingan ibu hamil dan balita-menjadi kunci yang disepakati.
Bupati berharap, komitmen ini menjadikan Banjarnegara tidak hanya hebat dalam perencanaan, tetapi juga disiplin dalam pelaksanaan.
“Kurangi seremonial, perbanyak aksi nyata. Masyarakat mengharapkan kita hadir secara nyata di tengah-tengah mereka,” katanya.
(Arief/Beritabersatu)