PEMALANG,BB — Aliansi DARURAT (Dari Rakyat, Oleh Rakyat, Atasi Tragedi) menggelar audiensi dengan BPBD Kabupaten Pemalang. Mereka meminta kejelasan dan transparansi terkait pengelolaan donasi konser amal bertajuk ‘Pray for Pemalang’.
Audensi tersebut berlangsung selama satu jam digelar di Ruang Rapat Kantor BPBD Kabupaten Pemalang, Kamis (5/2/2026).
Dalam hasil audensi tersebut, terungkap fakta hasil donasi khusus diacara pelaksanaan konser amal yang digelar selama tiga hari mulai tanggal 29 hingga 31 Januari 2026 terhimpun sebesar Rp 55 juta.
Sedangkan jumlah angka donasi sebesar Rp 150 juta merupakan akumulasi hasil donasi dari rangkaian kegiatan Hari Jadi ke-451 Kabupaten Pemalang yang digelar sejak awal.
“Untuk jumlah donasi yang masuk pas acara konsernya hanya Rp 50 juta dari angka total donasi sebesar Rp 150 juta,” ungkap Kepala Pelaksana Harian BPBD Pemalang, Agus Ikmaludin dihadapan peserta audensi.
Agus menyampaikan bahwa hingga saat ini penggalangan donasi terus dilakukan hingga menunggu berakhirnya masa tanggap darurat serta hasil kajian teknis dari Dinas Perkim.
“Per hari ini total donasi yang masuk ke BPBD mencapai sekitar Rp194 juta. Namun demikian, dana itu belum disalurkan,” ujarnya.
Agus juga menegaskan pihaknya terus berkomitmen untuk meningkatkan transparansi dengan menyampaikan ke publik terkait jumlah donasi yang masuk. Hal ini dinilai penting untuk menjawab keresahan masyarakat dan mencegah simpang siurnya informasi yang berkembang di ruang publik.
“Jumlah donasi akan kami update secara rutin setiap hari melalui kanal media sosial resmi Pemerintah Kabupaten Pemalang,” katanya.
Sementara itu, Koordinator Aliansi DARURAT, Widyana Aji Setiantoko, menegaskan bahwa audiensi ini bukan bertujuan mencari kesalahan, melainkan memastikan akuntabilitas pengelolaan donasi.
“Donasi ini adalah amanah dari rakyat. Maka sudah semestinya rakyat tahu perkembangannya. Kami dari DARURAT akan mengawal penyaluran donasi ini sampai selesai agar dana yang terkumpul benar-benar sampai kepada warga terdampak bencana,” tegasnya.
Aji mengatakan, bahwa keterbukaan informasi adalah kunci menjaga kepercayaan publik. Pihaknya bukan berarti menuduh, namun memastikan bahwa solidaritas masyarakat Pemalang tidak berhenti di angka dan seremoni, melainkan hadir nyata di tengah korban bencana.
“Donasi dari rakyat harus dikelola secara transparan, akuntabel, dan dapat diawasi publik,” tandasnya.(*)