BERITABERSATU.COM, Pemalang – Kegiatan pembinaan pegawai Perumda Air Minum Tirta Mulia Kabupaten Pemalang di sebuah hotel mewah di Yogyakarta menuai sorotan. Di tengah tuntutan efisiensi anggaran dan kekeringan yang melanda sejumlah wilayah, penggunaan anggaran untuk kegiatan tersebut dipertanyakan.
Aktivis Gerakan Mahasiswa Nasional Indonesia (GMNI) Pemalang, Iqbal Nur Wahid, meminta manajemen Perumda Tirta Mulia transparan terkait biaya, tujuan, dan hasil kegiatan pembinaan yang dilaksanakan di luar daerah tersebut.
Menurut Iqbal, peningkatan kapasitas pegawai memang penting. Namun, kegiatan itu harus mempertimbangkan kondisi masyarakat dan kebutuhan pelayanan air bersih yang masih menjadi persoalan di sejumlah wilayah Pemalang.
“Jangan sampai pembinaan justru terkesan menghambur-hamburkan uang. Di tengah tuntutan efisiensi dan kebutuhan air bersih masyarakat, anggaran harus diprioritaskan untuk kepentingan pelayanan publik,” ujar Iqbal kepada beritabersatu.com, Jumat (23/10/2026).
Ia menegaskan, manajemen harus membuka informasi mengenai total anggaran yang digunakan serta manfaat konkret kegiatan tersebut bagi peningkatan pelayanan kepada pelanggan.
“Efisiensi jangan hanya jadi slogan. Setiap rupiah harus jelas manfaatnya. Manajemen harus membuktikan kegiatan itu benar-benar menunjang pelayanan, bukan sekadar menghabiskan anggaran untuk agenda internal,” tegasnya.
Iqbal menilai, persoalan ini bukan semata-mata soal lokasi kegiatan, melainkan juga menyangkut transparansi dan akuntabilitas penggunaan anggaran perusahaan daerah yang bergerak di bidang pelayanan air minum.
Direktur Sebut Pembinaan Agenda Rutin
Terpisah, Direktur Perumda Air Minum Tirta Mulia Pemalang, Budi Harsudiono Seto Aji, mengatakan kegiatan pembinaan tersebut hanya berlangsung selama satu hari. Jajaran pegawai dijadwalkan kembali ke Pemalang pada hari berikutnya.
“Kegiatan hanya satu hari, besok sudah kembali ke Pemalang,” ujar Budi saat dikonfirmasi beritabersatu.com, Jumat (23/10/2026).
Budi menjelaskan, kegiatan tersebut merupakan pembinaan karyawan oleh Pelaksana Tugas (Plt) Bupati Pemalang selaku Kuasa Pemilik Modal (KPM). Kegiatan itu juga dihadiri Dewan Pengawas dan unsur pembina BUMD.
Menurutnya, pembinaan merupakan agenda rutin tahunan untuk memperkuat kedisiplinan, profesionalisme, dan tanggung jawab pegawai dalam meningkatkan kualitas pelayanan kepada masyarakat.
“Kami memahami bahwa masyarakat tentu mengharapkan pelayanan air bersih menjadi prioritas utama perusahaan, dan itu juga merupakan komitmen kami,” katanya.
Ia menambahkan, peningkatan pelayanan tidak hanya bergantung pada infrastruktur, tetapi juga pada kompetensi dan tanggung jawab sumber daya manusia.
Nominal Anggaran Belum Dirinci
Terkait besaran anggaran kegiatan, Budi mengatakan pihaknya perlu berkoordinasi terlebih dahulu dengan bagian keuangan untuk memastikan nominal yang akan disampaikan.
“Saya perlu memastikan terlebih dahulu dengan bagian keuangan agar angka yang disampaikan akurat dan dapat dipertanggungjawabkan,” ujarnya.
Budi juga menjelaskan, dalam beberapa tahun terakhir kegiatan pembinaan lebih sering dilaksanakan di Semarang. Sementara tahun ini, Yogyakarta dipilih sebagai alternatif lokasi.
Ia menegaskan, pelaksanaan kegiatan perusahaan harus mengacu pada perencanaan, prinsip efisiensi, dan ketentuan yang berlaku.
“Yang terpenting, kegiatan ini tidak boleh mengurangi komitmen kami dalam menangani persoalan distribusi air. Pelayanan kepada masyarakat tetap menjadi prioritas, dan hasil pembinaan ini harus berdampak nyata terhadap perbaikan kinerja perusahaan,” tegasnya.
(Daeng)