BERITABERSATU.COM, Pemalang – Kisah memilukan kembali diungkap Diah Indriyanti (36), ibu MHAQ (7), bocah kelas 2 SD di Kabupaten Pemalang yang meninggal dunia setelah diduga menjadi korban perundungan atau bullying.
Diah mengungkap, sebelum meninggal, putranya sempat menjalani perawatan di rumah sakit selama sembilan hari. Saat itulah korban mulai menceritakan apa yang dialaminya di sekolah.
“Setelah diperiksa dokter, baru dia cerita. Katanya dipukul di perut, ada yang menendang pakai sepatu,” ungkap Diah.
Menurut Diah, awalnya keluarga tidak mengetahui secara pasti penyebab anaknya mengalami kesakitan. Kondisi korban yang terus memburuk akhirnya membuat keluarga membawanya ke rumah sakit.
Selama dirawat, korban mengeluhkan sakit pada bagian perut hingga seluruh tubuh. Bahkan, korban menangis ketika tubuhnya diangkat karena menahan sakit.
“Kalau diangkat itu nangis, Pak. Nangis kesakitan. Ada memar juga, warnanya biru,” tuturnya.
MHAQ menjalani perawatan selama sembilan hari, mulai Kamis (17/9/2026) hingga Kamis berikutnya. Sejumlah pemeriksaan medis dilakukan, di antaranya rontgen dan USG.
Diah juga mengungkap kondisi lain yang membuat keluarga semakin terpukul. Selama beberapa hari, korban disebut mengalami gangguan saat buang air besar dan kecil hingga mengeluarkan darah.
“Selama empat hari itu BAB dan pipisnya berdarah,” ujarnya.
Perubahan perilaku korban juga dirasakan keluarga. Anak yang sebelumnya ceria disebut menjadi lebih takut dan berbeda dari biasanya.
Namun, bukan hanya kondisi anak yang membuat keluarga terpukul. Diah juga mempertanyakan komunikasi pihak sekolah terkait kondisi anaknya.
“Saya kecewa. Ternyata sekolah itu kok seperti melindungi,” kata Diah.
Diah mengaku keluarga baru mengetahui dugaan perundungan setelah kondisi anak memburuk dan menjalani pemeriksaan di rumah sakit. Padahal, menurutnya, keluarga berharap persoalan tersebut sejak awal dapat dibicarakan dan diselesaikan secara baik-baik.
“Kenapa tidak dari kemarin? Kalau sejak awal diberi tahu, mungkin kami bisa mencari jalan keluarnya bersama,” ujarnya.
Diah mengatakan sejumlah wali murid juga memberikan dukungan agar kasus tersebut diusut hingga tuntas. Keluarga khawatir kejadian serupa kembali menimpa siswa lainnya.
“Kami takut ini terulang. Jangan sampai nanti anak-anak yang lain mengalami hal yang sama,” katanya.
Keluarga kini meminta kejelasan mengenai peristiwa yang dialami MHAQ, termasuk siapa saja yang diduga terlibat dan bagaimana penanganan pihak sekolah saat kejadian tersebut berlangsung.
“Kami menerima sakitnya anak kami, tapi kami ingin tahu sebenarnya apa yang terjadi. Jangan sampai kejadian seperti ini terulang kepada anak lain,” tegas Diah.
Polisi Ungkap Dua Siswa Diduga Terlibat
Sebelumnya, kasus meninggalnya MHAQ mulai menemui titik terang. Polres Pemalang mengungkap adanya dua siswa kelas 5 SD yang diduga terlibat dalam peristiwa tersebut.
Hal itu disampaikan dalam konferensi pers di Aula Tribrata Polres Pemalang, Senin (5/10/2026).
Kapolres Pemalang AKBP Rendy Setia Permana melalui Kasat Reskrim AKP M. Faizal Wildan Umar Rela mengatakan, kasus tersebut bermula dari laporan masyarakat pada Rabu (30/9/2026) mengenai seorang anak yang meninggal dunia dan diduga menjadi korban perundungan.
“Berdasarkan keterangan dari kedua orang tua korban, anak korban sempat mengeluh sakit saat sekolah pada 16 September 2026, lalu minta pulang dan dijemput orang tuanya,” kata Faizal.
(Daeng)