Menjaga Napas Wayang Topeng Malangan: Dari Ritual Desa Permanu Menuju Ikon Wisata Dunia

by Ardin
0 comments

BERITABERSATU.COM, MALANG – Di tengah gempuran modernisasi, Desa Permanu, Kecamatan Pakisaji, Kabupaten Malang, tetap teguh menjaga denyut nadi warisan leluhur. Melalui Padepokan Seni Ngesti Pandawa, seni Wayang Topeng Malangan tidak sekadar menjadi tontonan, melainkan identitas yang menghidupi ekonomi kreatif warga setempat.

Kepala Desa Permanu, Edy Suharmadji, mengungkapkan bahwa sanggar yang berlokasi di Dusun Lowok tersebut kini bertransformasi menjadi pusat edukasi sekaligus museum hidup.

“Sanggar ini menyimpan peninggalan para sesepuh dan hingga hari ini masih sangat aktif menjadi pusat edukasi seni bagi generasi muda,” ujar Edy saat ditemui pada Jumat (30/1/2026).

Kunci eksistensi Topeng Malangan di Desa Permanu terletak pada pola regenerasi yang unik. Edy menjelaskan bahwa pemahaman seni ditanamkan sejak dini. Dalam setiap latihan, anak-anak tidak dibiarkan sendiri, melainkan didampingi langsung oleh pelatih dan orang tua mereka.

Tak hanya soal gerak tari, sisi teknologi pun mulai dirambah. Bekerja sama dengan mahasiswa KKN, pemerintah desa mulai mendokumentasikan setiap jengkal sejarah dan mempromosikannya melalui platform digital.

“Kami ingin memastikan nilai moral dari 62 karakter topeng seperti Panji, Sekartaji, hingga Bapang bisa tersampaikan ke milenial dan Gen Z melalui cara yang mereka pahami,” tambah Edy.

Proses pembuatan topeng di Permanu masih mempertahankan pakem tradisional. Para perajin menggunakan pisau pangot dengan tahapan yang teliti, mulai dari Mbakali: Pembentukan awal kayu, Wiwit: Pemberian detail wajah, Meraeni: Tahap penghalusan, hingga Maesi: Proses pewarnaan dan pemberian karakter.

Produk ini kini tidak hanya digunakan untuk pementasan. Kreativitas warga telah mengubah wajah seni menjadi produk ekonomi kreatif seperti suvenir, gantungan kunci, dan pajangan dinding yang bernilai ekonomi tinggi.

Pemerintah Kabupaten Malang melalui Dinas Pariwisata dan Kebudayaan pun terus memberikan dukungan melalui berbagai festival, seperti Gebyak Wayang Topeng Malangan di Boonpring. Langkah ini diharapkan mampu memperkuat posisi Desa Permanu sebagai desa wisata budaya.

“Langkah ke depan, kami mendorong kesenian ini menjadi daya tarik wisata utama. Target akhirnya, pengelolaan ini bisa menyumbang Pendapatan Asli Desa (PAD) secara berkelanjutan melalui BUMDes,” pungkas Edy optimistis.

Dengan perpaduan kearifan lokal dan sentuhan manajemen modern, Wayang Topeng Malangan di Desa Permanu kini bersiap melompat lebih jauh—dari sekadar tradisi desa menuju panggung pariwisata internasional. (Yanti)

You may also like