PEMALANG,BB – Banjir kembali merendam Desa Mojo, Kecamatan Ulujami, Kabupaten Pemalang, Jawa Tengah akibat luapan Sungai Comal saat cuaca ekstrem.
Banjir yang menjadi langganan tahunan ini memaksa warga turun tangan sendiri membangun tanggul darurat secara swadaya demi menyelamatkan rumah dan lingkungan mereka dari ancaman banjir susulan.
Ironisnya, bencana ini terjadi di desa tempat Ketua DPRD Pemalang berdomisili. Namun hingga kini tidak ada kehadiran, peninjauan, maupun sikap nyata dari pimpinan legislatif tertinggi di Kabupaten Pemalang tersebut. Fakta ini memicu kekecewaan dan kemarahan warga.
Ketua Karang Taruna Desa Mojo, Guntoro, melontarkan kritik keras terhadap sikap Ketua DPRD Pemalang yang dinilai tidak memiliki empati terhadap warganya sendiri.
“Ini yang paling menyakitkan. Ketua DPRD itu warga Desa Mojo juga, tapi saat desanya kebanjiran, dia tidak pernah turun. Sungai Comal meluap itu bukan baru sekali. Tapi yang berjuang justru warga, bukan pejabat,” ujar Guntoro dalam keterangan tertulisnya, Jum’at (30/1/2026).
Ia mengungkapkan disaat masyarakat berjibaku dengan lumpur dan arus sungai, Ketua DPRD Pemalang justru tak pernah terlihat di lokasi, baik di Desa Mojo maupun saat banjir bandang melanda wilayah Pemalang selatan.
“Sikap diam ini dinilai sebagai bentuk pembiaran terhadap penderitaan rakyat,” ungkapnya.
Ia menyebut, kondisi itu berbanding terbalik dengan langkah Wakil DPRD yang juga berdomisili di Desa Mojo, yang telah menyumbangkan dua dump truk material untuk pembangunan tanggul sementara di Dusun Karang Sambung. Meski membantu, warga menilai solusi darurat ini tidak akan menyelesaikan persoalan banjir tahunan Sungai Comal.
Ia mengungkapkan, bahwa ketidakhadiran Ketua DPRD menunjukkan kegagalan moral sebagai wakil rakyat, terlebih ketika bencana terjadi di lingkungan tempat ia tinggal.
“Kalau banjir di desa sendiri saja dia diam, lalu bagaimana nasib desa-desa lain di Pemalang? Jangan sampai jabatan tinggi tapi empati justru paling rendah,” ujarnya.
Atas kekesalan, ia pun mendesak Ketua DPRD Pemalang segera turun ke lapangan, berhenti menutup mata dan mendorong kebijakan nyata seperti normalisasi Sungai Comal serta pembangunan tanggul permanen.
“Jika tidak, banjir tahunan ini akan terus menjadi simbol ketiadaan kepemimpinan di tengah penderitaan rakyat,” tegasnya.
Selain itu, Ia juga mendesak ketua DPRD mundur dari jabatannya daripada punya jabatan tapi malah disalah gunakan hanya untuk mementingkan kepentingan pribadi saja.
Hingga berita ini ditayangkan, belum ada tanggapan dari Ketua DPRD Kabupaten Pemalang.(*)