​Jembatan Baliase Lumpuh Total, Ribuan Massa Aliansi Wija To Luwu Blokade Trans Sulawesi

by Syamsuddin
0 comments

BERITABERSATU.COM, LUWU UTARA — Arus lalu lintas di Jalan Poros Trans Sulawesi tepatnya di Jembatan Baliase, Kelurahan Baliase, Kecamatan Masamba, Kabupaten Luwu Utara, lumpuh total pada Jumat (23/1/2026).

Lumpuhnya jalur penghubung vital Masamba–Mappedeceng itu bukan disebabkan kecelakaan, melainkan aksi unjuk rasa ribuan massa yang menuntut keadilan bagi Tanah Luwu.

Aksi tersebut digelar oleh gabungan mahasiswa, masyarakat, dan organisasi kemasyarakatan yang tergabung dalam Aliansi Wija To Luwu. Massa menuntut percepatan pemekaran Daerah Otonomi Baru (DOB) Kabupaten Luwu Tengah serta pembentukan Provinsi Luwu Raya.

Dalam aksinya, massa memalang badan jalan menggunakan kendaraan sound system, membakar ban bekas, serta menebang pohon di sekitar Jembatan Baliase. Tindakan tersebut menyebabkan kemacetan total dari dua arah dan memutus jalur utama Trans Sulawesi yang selama ini menjadi urat nadi pergerakan ekonomi masyarakat.

Aksi dimulai sekitar pukul 13.20 WITA, sesaat setelah Salat Jumat. Hingga 16.38 WITA, massa masih bertahan di lokasi, sementara antrean kendaraan mengular panjang dari arah Masamba maupun Mappedeceng. Terik matahari dan asap pembakaran ban tidak menyurutkan semangat peserta aksi yang terus menyuarakan tuntutan mereka.

Jenderal lapangan aksi, Rifli, menegaskan bahwa penutupan jalan merupakan bentuk simbolik dari kekecewaan panjang masyarakat Luwu Raya terhadap lambannya respons pemerintah pusat.

“Kami tidak akan menghentikan aksi sampai Presiden Republik Indonesia, Bapak Prabowo Subianto, mendengar suara dari Luwu Raya dan segera membentuk Provinsi Luwu Raya,” tegas Rifli di hadapan massa.

Menurutnya, perjuangan pemekaran bukan sekadar tuntutan administratif, melainkan upaya membuka jalan keadilan bagi wilayah yang selama ini merasa terpinggirkan dalam pembangunan.

Hingga sore hari, Jembatan Baliase masih dikuasai massa aksi. Bagi Aliansi Wija To Luwu, peristiwa tersebut bukan sekadar kemacetan lalu lintas, melainkan pesan keras dari daerah pinggiran agar suaranya tidak lagi terhenti di meja birokrasi. (Kaisar)

You may also like