Imbas Pemangkasan Dana Transfer, Perbaikan Pasar di Kabupaten Malang Dipastikan “Puasa” Total pada 2026

by Ardin
0 comments

BERITABERSATU.COM, MALANG – Kabar kurang sedap menyambangi para pedagang pasar tradisional di Kabupaten Malang. Akibat berkurangnya alokasi Transfer ke Daerah (TKD) dari Pemerintah Pusat, program perbaikan dan pemeliharaan pasar di wilayah ini dipastikan “puasa” sepanjang tahun 2026.

Kondisi ini berbanding terbalik dengan tahun 2025, di mana Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Malang masih mampu mengucurkan dana sebesar Rp 1 miliar untuk memoles fasilitas publik tersebut. Kini, anggaran untuk rehabilitasi maupun pemeliharaan pasar nihil alias nol rupiah.

Kepala Bidang Pengelolaan Pasar dan Pedagang Kaki Lima (PKL) Disperindag Kabupaten Malang, Laili Aliyah, mengungkapkan bahwa keterbatasan APBD menjadi penyebab utama tidak adanya pos anggaran perbaikan tahun ini.

“Kalau boleh jujur, sebenarnya semua pasar masih membutuhkan pemeliharaan. Karena pemeliharaan dari tahun ke tahun hanya bersifat ringan,” ujar Laili saat dikonfirmasi pada Senin (12/1/2026).

Saat ini, Kabupaten Malang tercatat memiliki total 50 pasar, yang terdiri dari 34 Pasar Rakyat, dan 16 Pasar Hewan.

Tanpa adanya dana pemeliharaan, puluhan pasar tersebut terancam mengalami kerusakan yang semakin parah karena tidak adanya penanganan rutin.

Sebagai perbandingan, pada tahun 2025 lalu, Pemkab Malang sukses melakukan perbaikan minor di dua titik vital, yakni Pasar Dampit dan Pasar Kepanjen. Dengan pagu anggaran Rp 1 miliar, masing-masing pasar mendapat jatah Rp 500 juta.

Perbaikan tersebut dilakukan berdasarkan aspirasi masyarakat yang mengeluhkan kondisi infrastruktur. Di Pasar Kepanjen misalnya, saluran air bagian atas yang tidak berfungsi sempat menyebabkan air meluap ke kios-kios hingga memicu genangan saat hujan deras.

“Alhamdulillah, proses perbaikan tahun lalu sudah selesai sesuai target. Fokusnya memang pada keluhan mendesak seperti kebocoran dan saluran air agar pedagang maupun pembeli tetap nyaman,” tambah Laili.

Mandeknya perbaikan pasar tahun ini menjadi tantangan besar di tengah persaingan ketat dengan belanja daring (online). Laili menekankan bahwa pasar yang nyaman sebenarnya adalah kunci untuk mendukung UMKM lokal agar tetap bertahan.

Kondisi fisik pasar yang kurang terawat dikhawatirkan akan membuat semakin banyak konsumen meninggalkan pasar tradisional, yang pada akhirnya memicu tutupnya kios-kios pedagang.

“Pemeliharaan pasar itu sebenarnya untuk mendukung pemberdayaan pedagang. Di era digital ini, kita harus bersaing. Jika fasilitas tidak memadai, tentu sulit menarik minat pembeli,” pungkasnya.

Reporter: Yanti

You may also like