Setengah DPRD Absen di Kirab HUT Banjarnegara, Djarkasi Blak-blakan: Komunikasi Tersumbat

by Syamsuddin
0 comments

BANJARNEGARA, BERITABERSATU – Ada yang terasa berbeda dalam kirab perayaan Hari Jadi Kabupaten Banjarnegara ke-455 di Alun-alun Banjarnegara, Kamis (2/4/2026). Di tengah kemeriahan budaya dan antusiasme warga, jumlah kehadiran anggota legislatif tampak “menyusut”.

Dari total 50 anggota DPRD Kabupaten Banjarnegara, hanya sekitar 20 orang yang terlihat mengikuti rangkaian kirab. Angka ini menurun dibandingkan tahun sebelumnya, yang dihadiri hampir seluruh anggota dewan.

Fenomena ini pun memunculkan beragam tafsir, mulai dari faktor personal hingga isu komunikasi politik yang tersendat.

Salah satu anggota DPRD Banjarnegara dari Fraksi Golkar, Djarkasi, mengaku tidak menghadiri acara tersebut. Ia menyebut alasan duka menjadi penyebab utama ketidakhadirannya.

“Mboten (tidak berangkat-red), kader inti saya meninggal dunia. Rakyatku adalah rajaku. Hari ini ekonomi juga sedang tidak baik-baik saja, jadi sebaiknya kurangi acara seremonial,” ujarnya.

Namun, Djarkasi juga melontarkan kritik terhadap konsep kirab tahun ini. Ia menilai semangat historis peringatan menjadi kurang terasa.

“Ghiroh perjuangan kurang bermakna karena start dari Dinhub dan terminal, padahal sejarahnya terkait pemindahan kabupaten dari Banjarnegara Kulon dan Banjarnegara Petambakan,” katanya.

Saat ditanya soal hubungan legislatif dan eksekutif, Djarkasi menyinggung adanya komunikasi yang tidak berjalan optimal. “Komunikasi tersumbat. Nggak pernah ngopi bareng,” ucapnya singkat.

Di sisi lain, Bupati Banjarnegara, dr. Amalia Desiana, menegaskan bahwa perubahan rute kirab tahun ini merupakan hasil evaluasi dan masukan dari berbagai pihak.

Menurut Bupati, langkah tersebut diambil agar masyarakat dapat menikmati perayaan secara lebih merata.

“Tujuan utamanya adalah menggerakkan roda ekonomi masyarakat. Kita ingin melalui momentum ini muncul semangat kolektif untuk membangun Banjarnegara yang lebih maju dan sejahtera,” kata Amalia.

Pandangan berbeda disampaikan anggota DPRD dari Partai Demokrat, Ana Susanto. Ia memastikan bahwa hubungan legislatif dan eksekutif berjalan baik.

“Saya berangkat, dan kami baik-baik saja dengan eksekutif. Hari jadi Banjarnegara adalah momen yang dinanti dan menjadi kebahagiaan seluruh warga,” ujarnya.

Ana juga memperkirakan jumlah anggota dewan yang hadir sebenarnya lebih dari setengah. Ia merujuk pada jumlah kereta kuda dalam kirab.

“Sekitar 15 kereta kuda, rata-rata satu kereta dua orang. Jadi kemungkinan yang hadir lebih dari setengah,” katanya.

Sementara itu, Ketua DPRD Banjarnegara, Slamet, menjelaskan bahwa sejumlah anggota memang telah mengajukan izin tidak hadir. Alasan yang disampaikan pun beragam.

“Ada 13 yang izin, ada yang keluarganya meninggal, ada acara partai, ada juga yang menghadiri hajatan keluarga,” ujarnya.

Meski demikian, ia tidak menampik kemungkinan adanya faktor lain di balik minimnya kehadiran tersebut, termasuk pemahaman terhadap makna hari jadi daerah. “Ya mungkin ada juga yang belum paham makna hari jadi,” katanya.

Slamet menambahkan, pihaknya telah meminta Wakil Ketua DPRD, Agus Junaidi, untuk mensosialisasikan sejarah Hari Jadi Banjarnegara kepada anggota dewan.

“Saya perintahkan untuk menceritakan sejarah hari jadi Banjarnegara agar paham. Jadi di perayaan tahun depan bisa pada berangkat,” ujar Slamet.

Penulis : Arief Ferdianto

You may also like