BANJARNEGARA, BERITABERSATU – Ketua Persatuan Guru Republik Indonesia (PGRI) Kabupaten Banjarnegara, Heling Suhono, menilai kondisi pendidikan saat ini masih menghadapi berbagai persoalan serius.
Ia mengkhawatirkan, jika tidak segera dibenahi, cita-cita menuju Indonesia Emas berpotensi bergeser menjadi “Indonesia Cemas”.
Pernyataan tersebut disampaikan Heling dalam kegiatan halal bihalal Keluarga Besar PGRI Banjarnegara di Gedung PGRI Kabupaten Banjarnegara, Sabtu (28/3/2026).
Heling menjelaskan, berdasarkan Peraturan Pemerintah (PP) Nomor 4 Tahun 2022 tentang Standar Nasional Pendidikan, terdapat delapan standar yang menjadi acuan kualitas pendidikan.
Namun, ia menyoroti empat komponen utama pada aspek input pendidikan yang dinilai masih bermasalah, yakni pendidik dan tenaga kependidikan (PTK), sarana dan prasarana, pembiayaan, serta pengelolaan.
“Kalau kita bicara pendidikan, kuncinya ada di input. Dari empat input ini, tiga masih bermasalah serius,” kata Heling.
Ia merinci, pada aspek PTK, Banjarnegara masih kekurangan sekitar 2.500 tenaga. Kekurangan tersebut mencakup tidak hanya guru, tetapi juga tenaga administrasi dan penjaga sekolah.
Menurut dia, kondisi ini berdampak langsung pada proses pembelajaran. “Kurikulum sebaik apa pun tidak akan berjalan maksimal kalau gurunya kurang,” ujarnya.
Selain itu, persoalan pembiayaan pendidikan juga masih menjadi kendala. Heling menyebut, dukungan anggaran yang ada belum mencukupi kebutuhan di lapangan.
Ia juga menyinggung perlunya pemahaman yang lebih baik terhadap regulasi pendidikan. Menurutnya, masih ada praktik di lapangan yang belum sepenuhnya sesuai aturan.
“Regulasi sudah ada, tetapi implementasinya belum merata. Ini menjadi tugas kami di PGRI untuk terus memberikan pemahaman kepada para guru,” kata dia.
Sementara itu, pada aspek sarana dan prasarana, Heling mengungkapkan bahwa sekitar 50 persen fasilitas pendidikan pernah berada dalam kondisi rusak. Hal ini dinilai turut menghambat kualitas proses belajar mengajar.
Adapun pada aspek pengelolaan, terutama terkait kepala sekolah, kondisi saat ini disebut sudah membaik. Kekurangan kepala sekolah yang sebelumnya terjadi, kini telah terpenuhi setelah Bupati Banjarnegara, dr. Amalia Desiana, melantik 333 Kepala Sekolah pada beberapa waktu yang lalu.
“Untuk pengelolaan sudah relatif teratasi, tetapi tiga komponen lain masih menjadi pekerjaan rumah besar,” ucapnya.
Heling menegaskan, kualitas output pendidikan sangat ditentukan oleh kondisi input. Meski kurikulum, proses pembelajaran, dan sistem penilaian sudah berjalan baik, hasilnya tidak akan optimal jika fondasi awalnya masih lemah.
“Kalau inputnya bermasalah, sulit menghasilkan lulusan yang berkualitas. Karena itu, perbaikan harus dimulai dari dasar,” tegasnya.
Ia pun mendorong pemerintah dan seluruh pemangku kepentingan untuk lebih fokus membenahi sektor pendidikan secara menyeluruh, khususnya pada aspek input, agar tujuan besar menuju Indonesia Emas dapat tercapai.
(arf/fer)