BERITABERSATU.COM, SINJAI – Ada yang berbeda dari suasana Kantor Kejaksaan Negeri (Kejari) Sinjai pada Kamis sore (12/03/2026). Jika biasanya aroma formalitas hukum terasa kental, kali ini wangi aroma takjil dan hangatnya persaudaraan yang mendominasi setiap sudut ruangan.
Memanfaatkan momentum Ramadan 1447 H, Kejari Sinjai menggelar acara buka puasa bersama yang dikemas santai namun sarat makna. Tidak ada sekat kaku antara korps berbaju cokelat dengan para pemburu berita. Semuanya melebur dalam satu meja, menunggu dentum azan Magrib berkumandang.
Kepala Kejaksaan Negeri (Kajari) Sinjai, Mohammad Ridwan Bugis, tampak duduk akrab bersama jajaran Kepala Seksi (Kasi) dan para jurnalis. Baginya, agenda ini bukan sekadar rutinitas menggugurkan kewajiban tahunan atau sekadar mengisi perut yang kosong setelah seharian berpuasa.
“Kegiatan ini adalah wadah untuk mempererat silaturahmi yang sudah terjalin. Kami ingin hubungan dengan rekan-rekan pers dan adik-adik dari Panti Asuhan Al-Hidayah semakin solid,” ujar Ridwan dengan nada hangat.
Ridwan menyadari betul bahwa di era informasi digital yang serba cepat, pers adalah “napas” bagi edukasi hukum ke masyarakat. Tanpa media, kerja-kerja kejaksaan mungkin hanya akan terkunci di ruang sidang tanpa diketahui manfaatnya oleh publik.
Suasana semakin syahdu saat tujuh menit menjelang berbuka (Kultum) dimulai. Puluhan anak dari Panti Asuhan Al-Hidayah Sinjai tampak khusyuk mendengarkan tausiyah singkat. Senyum malu-malu mereka saat diajak berbincang oleh para staf kejaksaan menjadi potret betapa inklusifnya acara sore itu.
Momentum paling menyentuh terjadi saat sesi penyerahan santunan. Tidak ada wajah tegang atau aura “penegak hukum yang ditakuti”; yang ada hanyalah sosok ayah dan kakak yang berbagi kebahagiaan kepada adik-adik yatim.
Melalui pertemuan ini, Kejari Sinjai seolah ingin mengirimkan pesan bahwa penegakan hukum tidak melulu soal pasal dan jeruji besi, tapi juga soal empati dan kolaborasi.
Ketika azan berkumandang dan kurma pertama disantap, semua perbedaan profesi seolah luruh. Di meja makan itu, mereka bukan lagi sekadar Kajari, Jurnalis, atau Anak Panti—mereka adalah keluarga besar Sinjai yang tengah merayakan keberkahan di bulan suci. (*/Asdar)