BERITABERSATU.COM, SINJAI – Semarak perayaan Hari Jadi Sinjai (HJS) ke-462 yang seharusnya menjadi panggung budaya dan kebanggaan, kini diterpa isu tak sedap. Alih-alih menjadi etalase nilai religius Bumi Panrita Kitta, gelaran Sinjai Expo yang dimotori Himpunan Pedagang Pasar Sentral Sinjai (HPS2) justru diduga disusupi praktik perjudian berkedok ketangkasan.
Ironisnya, dugaan aktivitas melanggar hukum ini mulai terendus pada Selasa malam (3/2/2025), tepat saat masyarakat tengah bersiap menyambut bulan suci Ramadan.
Pantauan di lapangan mengungkap pemandangan yang kontras dengan citra daerah. Di area pasar malam, terdapat wahana pancing botol yang menjanjikan hadiah mewah berupa telepon genggam (HP). Namun, kemudahan yang ditawarkan diduga hanyalah kamuflase.
“Iye Pak, darika main. Bayar dulu baru main. Mancing botol kayaknya namanya itu permainan dan ada hadiahnya HP,” ungkap AA, salah satu pengunjung yang ditemui di lokasi.
Sistem “bayar untuk untung-untungan” inilah yang menjadi sorotan tajam. Secara hukum, aktivitas ini terindikasi kuat melanggar Pasal 303 ayat (3) KUHP. Unsur judi terpenuhi karena adanya, Taruhan uang dari pengunjung, Unsur ketidakpastian (untung-untungan), serta Keuntungan sepihak bagi penyelenggara.
Kehadiran wahana yang menyerupai praktik perjudian di tempat umum juga berisiko menjerat pengunjung secara hukum melalui Pasal 303 bis ayat (1) KUHP. Tak hanya pancing botol, jenis permainan seperti lempar gelang atau lempar bola yang dipungut biaya juga kerap dikategorikan sebagai judi di tempat keramaian jika mengandung unsur taruhan.
Publik kini mempertanyakan pengawasan dari pihak penyelenggara dan otoritas terkait. Mengapa aktivitas yang mencederai norma agama dan hukum ini bisa lolos di tengah pesta rakyat.
Hingga saat ini, pihak penyelenggara Sinjai Expo maupun aparat penegak hukum setempat belum memberikan pernyataan resmi terkait legalitas wahana-wahana tersebut. Masyarakat kini menanti tindakan tegas agar perayaan HJS ke-462 kembali ke khittahnya sebagai pesta budaya yang bersih dan bermartabat. (**)