SPPG Dadaplangu Blitar Klarifikasi Temuan Belatung dan Ompreng Kosong di TK Al-Hidayah 1

by Ardin
0 comments

Beritabersatu.com, Blitar – Pihak Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) Dadaplangu akhirnya memberikan klarifikasi terkait temuan belatung pada menu Program Makan Bergizi Gratis (MBG) serta distribusi dua ompreng kosong yang diterima TK Al-Hidayah 1 Desa Langon, Kecamatan Ponggok, Kabupaten Blitar.

Kepala SPPG Dadaplangu, Mefta Yusela, mengakui adanya kelalaian internal dalam dua peristiwa tersebut, namun menegaskan tidak ada unsur kesengajaan dalam pendistribusian menu MBG kepada peserta didik.

Terkait temuan belatung pada buah naga dalam menu MBG yang dibagikan Selasa, 27 Januari 2026, Mefta menjelaskan bahwa saat itu buah naga memang tidak dikupas, melainkan hanya dipotong dan dibersihkan pada bagian duri-durinya.

“Untuk menu buah naga, memang tidak kami kupas. Buah hanya dipotong-potong dan dibersihkan. Ketika dipotong itu tidak terlihat ada ulatnya. Baru ketika dibelah lebih dalam, ternyata ada bagian yang bolong dan terdapat ulat,” ujarnya.

Menurut Mefta, keputusan tidak mengupas buah naga dilakukan untuk menjaga kualitas buah saat distribusi. Ia menyebut buah naga berisiko menjadi lembek dan rusak jika dikupas sejak awal.

“Kalau dikupas, kami khawatir buahnya benyek saat distribusi. Karena itu sengaja tidak dikupas. Tapi ini memang kelalaian dari tim pemorsian kami,” katanya.

Ia menyampaikan permohonan maaf kepada pihak sekolah dan orang tua murid, serta memastikan kejadian tersebut menjadi bahan evaluasi internal. Ke depan, SPPG Dadaplangu berencana mengubah prosedur penyajian buah agar kejadian serupa tidak terulang.

“Kedepannya akan kami evaluasi, bisa jadi buah kami kupas sekalian supaya lebih aman,” tambahnya.

Sementara terkait dua ompreng kosong yang diterima TK Al-Hidayah 1, Mefta menegaskan hal tersebut terjadi akibat kesalahpahaman dan kekeliruan dalam proses distribusi, bukan unsur kesengajaan.

Ia menjelaskan bahwa sehari sebelumnya, terdapat dua ompreng milik sekolah lain yang tertinggal dalam kondisi kosong. Saat proses distribusi berikutnya, terjadi kekeliruan penurunan ompreng di TK Al-Hidayah 1 sehingga ompreng kosong tersebut ikut terbagi.

“Tidak mungkin kami dengan sengaja memberikan ompreng kosong ke penerima manfaat. Itu benar-benar tertukar. Ompreng kosong itu sebenarnya milik sekolah lain,” jelasnya.

Setelah mengetahui adanya kesalahan tersebut, Mefta menyebut tim distribusi langsung mendatangi sekolah yang bersangkutan untuk menukar ompreng kosong dengan paket MBG yang lengkap dan layak.

“Begitu ada konfirmasi, tim kami langsung ke sekolah dan menukarnya dengan yang baru dan utuh,” katanya.

Meski demikian, Mefta kembali mengakui kejadian tersebut sebagai bentuk kelalaian tim distribusi dan berjanji akan memperketat pengawasan ke depan.

“Ini juga jadi evaluasi kami agar tim distribusi lebih teliti lagi, supaya kejadian seperti ini tidak terulang,” pungkasnya.

Sebelumnya, TK Al-Hidayah 1 menjadi sorotan publik setelah beredarnya video temuan belatung pada menu MBG serta rekaman guru yang mengeluhkan ompreng kosong dan kondisi wadah yang terlihat kotor. Kasus ini memicu kekhawatiran orang tua murid terkait kualitas dan keamanan makanan dalam program MBG.

Dengan adanya klarifikasi dari pihak SPPG Dadaplangu, publik kini menanti langkah konkret perbaikan, agar program pemenuhan gizi bagi anak usia dini benar-benar berjalan sesuai tujuan dan standar keamanan pangan. (Zan)

You may also like