Beritabersatu.com, Blitar – Kondisi RSUD Mardi Waluyo Kota Blitar pasca pemangkasan massal tenaga kebersihan menuai sorotan tajam dari keluarga pasien. Fasilitas kesehatan yang semestinya menjadi tempat pemulihan kini justru memunculkan rasa tidak nyaman akibat kebersihan lingkungan yang kian memprihatinkan. Sampah terlihat menumpuk di sejumlah titik, sementara standar pelayanan kebersihan dinilai jauh dari harapan.
Pantauan di lapangan menunjukkan tumpukan sampah ditemukan di berbagai sudut rumah sakit. Di area parkir, misalnya, daun-daun kering dibiarkan berserakan tanpa penanganan, mencerminkan lemahnya pengelolaan kebersihan pasca pengurangan tenaga kerja. Kondisi ini memicu keresahan di kalangan pasien dan keluarga yang setiap hari beraktivitas di lingkungan rumah sakit.
“Saya kaget, ini rumah sakit, tapi sampahnya dibiarkan menumpuk,” keluh Siti (45), keluarga pasien asal Kecamatan Sananwetan, saat ditemui di lokasi.
Kondisi tersebut diduga kuat merupakan dampak langsung dari kebijakan pemangkasan massal tenaga kebersihan yang diterapkan manajemen RSUD Mardi Waluyo. Jumlah petugas yang tersisa dinilai tidak sebanding dengan luas dan kompleksitas area rumah sakit, sehingga kebersihan lingkungan tak lagi tertangani secara optimal.
“Kami datang membawa orang sakit, bukan orang sehat. Kalau lingkungannya kotor seperti ini, justru khawatir menambah penyakit,” tambah Siti dengan nada kecewa.
Ironisnya, kebijakan efisiensi yang digaungkan justru mengorbankan aspek paling mendasar dalam pelayanan kesehatan. Kebersihan bukan sekadar soal tampilan, melainkan syarat utama keselamatan pasien. Lingkungan rumah sakit yang tidak terjaga berpotensi meningkatkan risiko infeksi dan memperburuk kondisi pasien.
Seperti diberitakan sebelumnya, harapan puluhan tenaga kebersihan untuk memulai awal tahun dengan pekerjaan layak berubah menjadi kekecewaan mendalam. Mereka yang sebelumnya dinyatakan lolos seleksi dan bahkan telah mulai bekerja di RSUD Mardi Waluyo sejak Kamis (1/1/2026), tiba-tiba harus menerima kenyataan pahit: status kelulusan mereka dibatalkan secara sepihak.
Pembatalan tersebut disampaikan oleh PT Sasana Bersaudara Indonesia (SBI) melalui surat pengumuman resmi bernomor 002/PNG/SBI/I/2026, selaku perusahaan penyedia jasa tenaga kebersihan di RSUD Mardi Waluyo.
Ironisnya, alasan pembatalan hanya disebut sebagai “kendala internal perusahaan” tanpa penjelasan rinci dan transparan. Alasan tersebut dinilai tidak manusiawi, mengingat puluhan pekerja telah menggantungkan harapan dan penghidupan pada pekerjaan itu.
Sementara itu, Pelaksana Tugas (Plt) Direktur RSUD Mardi Waluyo, dr. Bernard Theodore Ratulangi, Sp.PK., mengaku telah memberikan teguran kepada pihak perusahaan rekanan.
“Kami sudah menegur pihak PT-nya. Kok bisa seperti itu. Tapi terkait penggantian pekerja, kami tidak tahu. Soal adanya titipan, saya tidak tahu sama sekali,” tegasnya.
Hingga berita ini diturunkan, pihak PT Sasana Bersaudara Indonesia belum memberikan klarifikasi. Upaya konfirmasi melalui pesan singkat dan sambungan telepon juga belum membuahkan hasil.
Kisruh pemangkasan dan rekrutmen tenaga kebersihan ini kembali menyorot tata kelola manajemen di RSUD Mardi Waluyo. Transparansi, profesionalitas, serta keadilan dalam proses penerimaan tenaga kerja dipertanyakan, seiring menurunnya kualitas layanan kebersihan yang kini dirasakan langsung oleh pasien dan keluarganya. (Zan)